SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Akibat terendam hujan para petani yang menanam padi di rawa terpaksa harus panen lebih awal. Mereka rugi besar karena harga tanaman puso dan harga jual hanya Rp1500-Rp2000 perkilogram (Kg) untuk gabah basah.
Disepanjang jalan raya di tepi rawa Pucuk- Sekaran terlihat kesibukan petani yang sedang panen. Hasil panenan yang diambil dari tengah-tengah rawa diangkut dengan menggunakan perahu dan diturunkan diatas tanggul rawa. Padi tersebut kemudian di rontokkan dengan menggunakan alat perontok.
“Terpaksa panen lebih awal, Mas. Dari pada tidak mendapatkan hasil sama sekali,” kata salah satu petani Sumadi.
Tanaman padi di rawa terendam banjir sebagian besar tenggelam dan tidak bisa diselamatkan. Yang bisa dipanen bulir padinya juga gabuk (tidak berisi).
“Karena gabuk, harga jual gabah jeblok. Perkilo hanya dihargai oleh bakul antara Rp1500-Rp2000,” jelasnya.
Petani terpaksa memanen lebih awal dengan resiko harga rendah untuk menghindari kerugian lebih besar.
“Dengan harga rendah, masih harus dipotong untuk upah preman (yang membantu panen) dan ongkos sewa perahu. Pokoknya nasib petani kali ini benar-benar jatuh,” ujar petani lainnya Bakir.
Padi yang dipanen tersebut biasanya akan dibeli langsung oleh para tengkulak yang membeli langsung ditempat. Petani tidak memiliki nilai tawar hasil panen karena harga sepenuhnya ditentukan oleh tengkulak (tok)