SuaraBanyuurip.com – Ririn WediaÂ
Bojonegoro – Kontribusi wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa) pada kegiatan industry hulu minyak dan gas bumi (migas) total produksi sebesar 300.000 barel per hari (Bph) atau sebesar 15 persen dari produksi nasional.
“Jumlah ini meningkat signifikan karena Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu mencapai produksi puncak sebesar 165.000 Bph,” ujar Kepala Perwakilan SKK Migas wilayah Jabanusa, Ali Masyhar, Jumat (25/3/2016).
Industri hulu migas saat ini masih menghadapi kendala non teknis. Salah satunya, kepentingan pemerintah daerah dalam kerangka otonomi daerah, terutama minimnya pengetahuan daerah mengenai dana bagi hasil minyak dan gas bumi.
“Serta peran daerah dalam bentuk participating interest (PI),” imbuhnya.
Mengingat migas merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan, pemanfaatan dana bagi hasil sebaiknya digunakan untuk meningkatkan dan membangun potensi-potensi di daerah yang sifatnya lebih jangka panjang dan dapat memacu pertumbuhan sektor lain.
“Koordinasi dengan pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) sangat penting untuk mencapai tata kelola migas yang lebih efektif,” tegasnya.
Pihaknya berharap, dengan adanya transparansi, dialog dan komunikasi secara intensif selalu diutamakan supaya semua pihak memberikan dukungan sehingga operasi lancar dan sukses. (Rien)