Sektor Migas Tak Jadi Prioritas Blora

SuaraBanyuurip.comAhmad Sampurno

Blora – Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengaku, sektor Minyak dan Gas Bumi (Migas), tidak menjadi prioritas utama untuk mendongkrak perekonomian dan pembangunan masyarakat di wilayahnya. Pasalnya, masih banyak sektor lain yang masih berpotensi mejadi harapan masyarakat Blora. Salah satunya adalah sektor pariwisata.

Keberadaan Blok Cepu, sebagai bukti bahwa hingga saat ini belum menunjukkan hasil maksimal bagi Blora. Bahkan Blora tidak mendapatkan Dana Bagi Hasil (DBH) dari operasional Blok Cepu. Padahal 28 persen wilayah kerja Blok Cepu yang di operasikan oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) masuk wilayah administratif Blora.

Abdullah Aminudin, Wakil ketua DPRD Blora, menjelasakan, kondisi tersebut disebabkan regulasi mengatur DBH Blok Cepu tidak berpihak pada Blora. Undang-undang (UU) 33/2004 selama ini dinilai tidak adil bagi Blora. Pasalnya, dalam UU tersebut pada pasal 19 disebutkan bahwa penerimaan pertambangan minyak dan gas bumi sesudah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya akan dibagikan ke daerah.

Sedangkan pembagian untuk DBH minyak bumi sebesar 15 persen. Dengan perincian 3 persen untuk provinsi penghasil, 6 persen untuk kabupaten dan kota penghasil serta 6 persen dibagikan untuk kabupaten/ kota dalam provinsi penghasil. Atau dengan kata lain, penghitungan DBH migas didasarkan pada keberadaan mulut sumur produksi migas. Dan saat ini, sumur migas Blok Cepu berada di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Baca Juga :   Tajak Pertama Sembelih Kerbau

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Blora, Samgautama Karnajaya, mengungkapkan, bahwa sudah saatnya Blora mandiri dan bangkit dari sektor selain migas. Yakni dengan mengembangkan potensi lokal. Mulai dari pertanian, perdagangan sampai sektor jasa.

”Ini yang menjadi fokus kita selama lima tahun kedepan,” jelasnya.

Dalam hal ini, pihaknya akan merubah mindset, bahwa pembangunan tidak melulu hanya mengandalkan migas sebagai primadona. Dia menjelaskan, pertanian menjadi fokus, dalam lima tahun kedepan pertanian akan digenjot semaksimal mungkin. Selain itu perdagangan, dengan cara mengembangkan perdagangan di kalangan masyarakat kecil.

“Pasar tradisional yang ada di desa, sudah saatnya kita optimalkan. Di Bora sendiri ada kurang lebih 57 pasar tradisional,” kata dia.

 Selanjutnya, perkembangan potensi jasa yang ada di Blora. Salah satunya pariwisata, yang sangat ditekankan untuk bisa berkembang melalui potensi alam dan potensi kesuburan tanah yang ada.

“Saya di Blora sejak 1991, saat itu goa terawang masih sama dengan saat ini,” kata dia.

Menurut dia, Pengembangan pariwisata di Blora tak jarang menjadi kendala, yakni banyaknya potensi wisata di Blora mayoritas masuk ke dalam kawasan Perhutani. “Itu salah satu kendalanya,” ujarnya. (ams)

Baca Juga :   Warga Pasif Sambut Harga BBK Turun

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *