Warga Rahayu Kesulitan Tangkap Peluang Usaha

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Keberadaan pengeboran migas Lapangan Mudi, Blok Tuban, belum banyak memberi multiplier effect (efek berantai) kepada warga Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Warga masih kesulitan menangkap peluang usaha dari industi migas di desa mereka.

Hal itu dapat dilihat dari tumbuhnya warung makanan dan minuman (Mamin) di sekitar Lapangan Mudi yang dikelola Joint Operating Body Pertamina – Petrochina East Java (JOB-PEJ). Di pintu masuk PAD A Lapangan Mudi hanya ada 3 warung mamin, dan 4 warung serupa di sekitar PAD B.

“Saya juga heran kenapa warga Rahayu enggan berwirausaha,” kata Kepala Desa (Kades) Rahayu, Sukisno, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di kediamannya, Selasa (10/5/2016).

Parahnya, setiap kali ingin jajan ketika malam hari, konsumen harus membeli di warung tetangga desa, salah satunya Desa Sokosari, Kecamatan Soko. Padahal apabila warga membuka warung makan tradisional di sekitar Jalan Lingkar Rahayu pasti laris manis, mengingat jumlah karyawan di tapak sumur A dan B mencapai ratusan orang.

Baca Juga :   Sumur KWG PWA-1 Dibor, Berkah Bagi Warga Malo

“Biasanya pekerja JOB kalau makan siang pulang kerumahnya, atau beristirahat di warung sekitar,” imbuh Kisno.

Dia mengku heran terhadap pemuda desanya. Sebab tidak ada yang berniat membuka usaha warung kopi atau kuliner serupa di Kecamatan Rengel, dan Plumpang. Padahal soal modal, pemdes siap memberikan pinjaman dengan syarat harus digunakan sebagaimana mestinya.

Salah satu faktanya, hampir 80 persen pemuda Rahayu masih mengharapkan bekerja di perusahaan. Walaupun masa kontrak kerjanya singkat.

“Bahkan pernah ada lowongan kerja selama seminggu di JOB PPEJ banyak yang daftar,” jelasnya.

Kondisi ini menjadi problema tersendiri bagi Pemdes Rahayu. Selain sulit menangkap peluang usaha, banyak pemuda yang sudah menyelesaikan studi Diploma atau S1 jarang kembali ke desa. Rata-rata lebih memilih menetap di kota Surabaya atau Semarang.

“Kami sudah mengimbau orang tua maupun pemuda untuk membanhgun desa tetapi hasilnya nihil,” tandasnya.

Pihak desa pernah mengingatkan bahwa tidak selamanya perusahaan minyak beroperasi di Rahayu. Mengingat masa kontrak JOB P-PEJ akan habis pada tanggal 19 Pebruari 2018.

Baca Juga :   Jadi Pilar Ekonomi, Industri Migas Takkan Ditingalkan

Sesuai data dari Pemdes Rahayu, sampai saat ini ada 200 warga usia produktif yang menjadi karyawan JOB PPEJ. Selain itu, ada ratusan lulusan SMA maupun SMP yang belum bekerja lantaran masih menunggu rekrutmen tenaga kerja (Naker) dari perusahaan.(aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *