SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Puluhan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, selama tiga hari kedepan bakal mengikuti pelatihan langsung teknik negosiasi, dan kontrak dagang ekspor bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim. Kegiatan rutin tersebut kerjasama dengan Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Tuban setiap tahunnya.
“Tahun ini ada 30 pelaku UKM Tuban yang kita latih,” kata Kasi Diklat UPT Pendidikan Pelatihan dan Promosi Ekspor (P3E), Disperindag Jatim, Djoni Soemadyo, kepada Suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi di Rest Area Jalan Teuku Umar Tuban, Selasa (17/5/2016).
Dia menilai, besarnya potensi produk UKM di 38 kabupaten/kota se-Jatim, harus difasilitasi ekspor. Sehingga memasuki era pasar bebas dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semuanya sudah mandiri. Termasuk Tuban sangat besar potensi batik, kerajinan, maupun komoditas lainnya.
“Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim menargetkan semua pelaku UKM mampu menembus ekspor,” imbuh Djoni.
Sebab, hingga kini praktik ekspor produk UKM lokal, kerap dikuasai pihak ketiga. Dimana rata-rata memperoleh keuntungan lebih besar dari pelaku UKMnya. Kondisi ini harus diputus, dan semua pihak harus saling mengontrol.
Sehingga capaian surplus ekspor impor Jatim tahun 2016 tetap berlanjut hingga tahun berikutnya. Tercatat, ekspor impor Jatim surplus 257 juta dolar. Sedangkan ekspor impor antar pulau mencapai Rp 312 triliun, dan tahun depan dipastikan ada dana sebesar Rp 120 triliun yang dinikmati masyarakat Jatim.
“Capaian ini harus ditingkatkan terus,” tambahnya.
Terpisah, Kabid Perdagangan Disperpar Tuban, Bhismo Setya Adji, mengatakan pelatihan ini berlangsung sejak tanggal 17 Mei sampai 19 Mei 2016. Dalam momentum tersebut, Disperindag Jatim bakal mengoptimalkan kemampuan peserta sampai tuntas.
Penyebabnya, ada sembilan materi yang bakal disampaikan. Diantaranya, teknik negosiasi dagang internasional, konsep dagang, latihan membuat kontrak, dan menjadi negosiator yang baik.
Beberapa materi pilihan tersebut bakal disampaikan oleh akademisi dan praktisi yang kompeten di bidangnya. Salah satunya akademisi dari Universitas Bayangkara Surabaya.
“Kami minta semua peserta serius, dan aktif dalam sesi diskusi,” sambungnya.
Dia menghimbau, setelah pelatihan ini usai apabila masih ada produk UKM Tuban yang belum memiliki merk dagang untuk segera didaftarkan. Alasannya, dalam pertemuan bersama Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, beberapa waktu lalu, produk batik bordir Jatim telah diakui perajin Negara Belgia. (Aim)