SuaraBanyuurip.com -Â
Mantan pekerja proyek EPC Banyuurip sukses mendirikan jasa potong rambut. Bahkan Ia mampu menciptkan lapangan pekerjaan bagi warga kurang mampu.
Berkurangnya tenaga kerja proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement and Constructions /EPC) Lapangan Banyuurip, Blok Cepu membuat sebagian mantan pekerjanya mencari sumber penghasilan lain. Â Salah satunya beralih ke sektor wirausaha.
Sebagaimana dilakukan Rubianto, warga Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Mantan pekerja proyek di salah satu sub kontraktor EPC ini nekat mendirikan usaha jasa potong rambut sejak tahun 2013 lalu, dan hasilnya lancar.
“Mulai buka bulan Juni tahun 2013,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Senin (23/5/2016).‎
Saat ini, Rubiyanto sudah memiliki dua cabang tempat potong rambut. Tepatnya di Desa Mojodelik dan Gayam.
Warga RT/RW 04/01 Desa Mojodelik ini juga sudah memiliki karyawan sendiri. Di kalangan teman – teman dan pelanggannya, Rubianto akrab dipanggil Turis lantaran pada waktu kecil warna rambutnya berwarna agak kemerah merahan.
Mas Turis, biasa disapa hanya tamatan Sekolah Dasar (SD). Meski demikian, semangatnya menjalani hidup terbilang luar biasa. Turis mampu bertahan di tengah himpitan ekonomi.
Dia menyadari jika multy pliereffect  (efek berantai) proyek Banyuurip hanya bersifat sementara.Â
“Selain ikut diproyek saya juga pernah kerja kuli dan merantau ke luar kota,” ucapnya.
Turis pernah menjadi tukang cuci motor di Surabaya selama kurang lebih 4 tahun. Dari hasil jerih payahnya itu kemudian dia membuka usaha aksesoris.
Namun keberuntungan belum berpihak kepadanya. Dia pun mencoba bangkit dengan berjualan kaset. Hasilnya, usahanya juga belum berbuah hasil.
“Usaha itu saya lakukan di tahun 2012,” tuturnya.
Kemudian, tahun 2013, dia ikut beradu nasib di tengah geliat proyek EPC Lapangan Banyuurip. Pada saat itu Turis dipekerjakan sebagai tenaga helper.
Di tempatnya bekerja, Turis sempat dipromosikan menjadi safety officer hingga tahun 2015. Namun sayang, geliat mega proyek EPC Banyuurip hanya mimpi semu bagi kaum pekerja unskill.
Pengurangan tenaga kerja besar- besaran harus dilakukan mengingat proyek konstruksi EPC hampir rampung. Turis pun harus berhenti bekerja di proyek.
“Pengurangan tenaga kerja membuat saya dan teman – teman sempat bingung,” ucapnya.
Beruntung, selain ikut bekerja dia sempat merintis usah potong rambut. Justru usaha jasa potongnya yang lebih menjanjikan.
Meski awalnya hanya kecil – kecilan, usahanya sekarang terus berkembang. Turis bahkan mampu sudah manciptakan lapangan pekerjaan.
Yang menarik, dia mengangkat karyawan dari kalangan yatim piatu. Dalam sehari Turis bisa melayani 20 hingga 30 orang dalam satu hari.‎
Dengan usahanya sekarang ini, Turis merasa bangga dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Sekarang dia punya 5 karyawan yang di antaranya masih menempuh pendidikan, dan 1 anak yatim, 1 lagi anak yatim piatu, dan 2 anak yang orang tuanya tidak punya ladang persawahan.
“Saya bangga bisa membantu mereka,”tuturnya. (athok moch nur rozaqy)