Ajak Perempuan Bojonegoro Cegah Korupsi

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Perempuan memiliki peran startegis untuk mencegah korupsi. Karena perempuan memiliki standar etika yang lebih tinggi, dan taat aturan.

Demikian disampaikan Saiis Sulitoh perwakilan IDFoS dalam diskusi Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) yang dilaksanakan di ruang pertemuan Bakesbangpol Linmas Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (15/6/2016). Kegiatan ini diikuti sejumlah organisasi perempuan di bumi Angling Dharma.

Berdasarkan data statistik, 93,4 persen korupsi dilakukan oleh laki-laki, sedangkan sisanya kurang dari tujuh persen oleh perempuan. Hal ini menjadi bukti jika perempuan memiliki peran yang sangat penting di keluarga karena bisa mencegah tindakan korupsi.

Perempuan sebagai ibu, misalnya, bisa menanamkan karakter kejujuran kepada anak sejak dini. Kemudian perempuaan sebagai istri dapat menjalankan fungsi sebagai auditor keuangan rumah tangga, dan perempuan sebagai sosial memberikan teladan dan menyerukan gerakan anti korupsi di lingkungannya.

“Karena itu kami mengajak kaum perempuan di Bojonegoro untuk bersama-sama mencegah korupsi mulai dari lingkungan diri sendiri,” tegasnya.

Perwakilan IDFoS lainnya, Rika Wulandari mengungkapkan, kasus korupsi telah mengundang keprihatinan tersendiri. Karena menimbulkan beberapa dampak yakni memperburuk kesenjangan pendapatan dan kemisikinan, menurunkan perkembangan ekonomi, menghapuskan demokrasi dan merendahkan keterwakilan.

Baca Juga :   Waduk Tirto Agung di Bojonegoro Jebol, 10 Hektar Sawah dan Jalan Desa Putus

“Kasus ini menempatkan Bojonegoro peringkat ke dua di Jawa Timur,” sambung Rika.

Korupsi sering terjadi di antaranya di lingkungan pendidikan, anggaran sosial, APBN/APBD, pajak dan energi, pengadaan barang dan jasa, perijinan tambang dan investasi.

“Pelaku korupsi bisa dihukumi mati bila negara dalam kondisi darurat. Seperti mengkorupsi dana bantuan bencana,” tegasnya.

Ketua DPRD Bojonegoro, Mitroatin yang berkesempatan hadir mengapreasiasi kegiatan ini. Menurut dia, kegiatan semacam ini tidak hanya dilakukan sebatas aktifis. Tetapi perlu disosialisasikan kepada ibu-ibu/istri para pejabat.

Sebab, menurut Mitroatin, pendidikan anti korupsi harus ditanamkan sejak dini yakni mulai lingkungan keluarga. Seperti seorang ibu harus menanam kejujuran pada anak, dan para perempuan di lingkungan dan organisasinya.

“Istri jangan terlalu banyak nuntut suami. Itu sama saja dengan mendorong suaminya untuk melakukan tindakan korupsi,” pesan politisi Partai Golkar itu.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *