Senyuman Terakhir di Tempat Pengungsian

SuaraBanyuurip.com

Banjir bandang di wilayah Tuban, Jawa Timur, merenggut korban jiwa. Seorang perempuan senja meninggal dunia setelah kembali dari lokasi pengungsian akibat serangan jantung.

Pagi masih muda. Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 WIB. Kepanikan warga Dusun Jambangan, Desa Kedungjambangan, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, yang baru saja reda akibat terjangan banjir bandang pada Sabtu (18/6/2016) malam, pukul 20.30, kembali pecah di Minggu (19/6/2016) pagi buta.

Suara tangis haru pecah dari sebuah rumah sederhana di ujung jalan dusun setempat. Membangunkan sejumlah warga yang masih lelap dililit letih akibat bergulat dengan gulungan air.

Mereka pun kemudian bergegas mendatangi rumah Sujinah (51). Perempuan senja yang semalam baru saja kembali dari lokasi pengungsian itu sudah tergelatak tak bernyawa di tempat tidur usang.

Serangan jantung merenggut nyawa Mbah Sujinah setelah beristirahat semalam di lokasi pengungsian yang hanya berjarak 500 meter dari rumahnya.

“Ketika sampai di pengungsian, Sujinah merasakan sakit kepala kemudian ingin beristirahat sejenak,” kata adik kandung korban banjir, Ruminah (48), kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui di rumah duka, Minggu (19/6/2016).

Dirinya tidak mengira kalau hari ini, menjadi saat terakhir melihat kakak kandungnya tersenyum. Sebab ketika dirinya mengajak korban mengungsi, masih dalam keadaan sehat walafiat. Terbukti masih mampu mambawa selimut, tikar, dan berjalan tegap di tengah guyuran hujan.

Namun semua kenangan sesaat itu berubah menjadi tangis duka ketika Ruminah kembali menatap wajah kakaknya yang terbujur kaku. Apalagi ketika mengingat saat Sujinah meregang nyama membutuhkan pertolongan, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Upaya penyelamatan tidak dapat dilakukan cepat karena kondisi desa yang terbilang terisolasi dari fasilitas kesehatan.

Baca Juga :   Ketika Ketenangan Penambang Sumur Minyak Tua Diusik

“Kami sudah berusaha mencari kendaraan untuk menuju Rumah Sakit Bojonegoro tapi tak kunjung dapat,” imbuh Ruminah.

Pada pukul 03:00 WIB dini hari, saudara korban bersama Rt setempat tetap berupaya mencari kendaraan. Tetapi suratan takdir Sujinah sudah ditentukan sang Ilahi. Dimana ketika korban hendak dimasukan ke mobil, korban menghela nafas panjang hingga tak terasa denyut nadinya lagi.

Sehingga daripada membuang waktu, saudara korban memutuskan untuk tidak membawanya ke RS. Inisiatif tersebut diambilnya, lantaran nyawa kakaknya sudah sampai batas.

“Ruminah baru ingat kakaknya memiliki penyakit jantung dan tekanan darah tinggi,” tambahnya.

Hampir setiap tahun korban mengeluhkan rasa sakit di bagian dada. Tetapi pengobatan rawat jalan berhasil memperpanjang hidup Sujinah. Menurutnya meninggalnya korban karena kaget melihat banjir bandang yang menggenangi isi rumahnya.

Perempuan yang akrab dipanggil mbah Sujinah ini tergolong baik di mata tetanganya. Hasil komunikasi dengan beberapa tetangganya, semenjak meninggalnya suaminya tiga tahun silam korban cenderung pendiam.

Anak semata wayangnya yang bekerja di Ibu Kota Jakarta, disinyalir memicu rasa kesepian korban dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

“Korban tinggal sendirian di rumahnya sesekali ditemani saudaranya yang rumahnya tidak jauh,” sambung Tetangga korban, Insiroh.

Langit mendung masih membayangi Desa kedungjambangan. Ruas jalan desa yang masih digenangi sisa air banjir bandang tak menyurutkan niat warga memikul keranda jenazah Sujinah menuju tempat pembaringan terakhir di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat.

Baca Juga :   'Ider-ider' Awali Festival Bengawan Bojonegoro

Sebagian pelayat laki-laki turut mengantarkan jenazah sampaj ke TPU. Sedangkan pelayat perempuan masih bersama saudara korban di kediamannya.

Ketika didatangi sejumlah awak media tak banyak yang dikatakan Ruminah. Hanya saja dia tidak merasakan firasat apapun sebelum menyiapkan tempat istirahat untuk kakaknya di pengungsian.

Malam itu Ruminah bersama pengungsi lainnya kaget setengah mati, melihat Sujinah raut mukanya berubah. Mendadak ekspresinya seolah menahan sakit. Itu terlihat dari bibirnya yang pucat pasi letaknya tidak sempurna.

Sementara, Ketua RT 02/RW 02 Desa Kedungjambangan, Nur Khasan, ketika dikonfirmasi membenarkan ada warganya yang meninggal dunia.

“Mbah Sujinah meninggal dunia sekitar pukul 03.00 WIB pasca keluarga berusaha mencari angkutan,” jelas Nur Khasan.

Diketahui, hujan lebat mengguyur Kecamatan Bangilan mulai hari Sabtu malam (18/6), mulai pukul 19:00 WIB hingga 01:00 WIB. Khusus Desa Kedungjambangan diguyur hujan sedang. Sesekali hujan lebat disertai angin kencang menyelimuti wilayah setempat, namun tidak membuat khawatir warga.

Air mulai memasuki pemukiman warga secara perlahan, akibat luapan Sungai Kening. Tak butuh waktu 10 menit ketinggian air sudah 70 Centimeter (Cm). Sehingga ketika Sujinah yang sedang tidur dibangunkan oleh beberapa saudaranya, dia terkaget hingga berujung hilangnya nyawa.(ali imron)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *