SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Pasca membesarnya gas buang (flare) Tapak Sumur (Pad) A Mudi, pada 29 Juli 2016 kemarin, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jawa, Bali, Nusa Tenggara (Jabanusa), meminta operator Migas Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ), untuk mengecilkan tekanan flare.
Permintaan tersebut seiring dengan menurunnya produksi minyak dan gas di Sumur Mudi, Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
“Seharusnya tekanan flare diperkecil, sehingga tidak berdampak besar terhadap lingkungan,†kata Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Ali Masyar, kepada Suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi melalui teleponnya, Sabtu (2/7/2016).
Dia menilai membesarnya flare Pad A pekan lalu tidak harus terjadi. Sebab menurunnya produksi Minyak dan Gas (Migas) Mudi, idealnya diikuti dengan kestabilan lingkungan secara perlahan.
Sesuai catatannya produksi puncak sumur Mudi sebelumnya mampu mencapai 4.000 Barel Per Hari (Bph), tetapi saat ini tinggal 1.000 Bph. Begitupun dengan produksi gas JOB P-PEJ kini tinggal 3 Million Metrick Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).
Jumlah tersebut menurun drastis dari 10 tahun lalu mampu memproduksi 20 MMSCFD. Secara teknis pihaknya belum paham detail soal kondisi flare Pad A Mudi. Tetapi melihat data produksinya, apabila dihitung secara ekonomis jelas sulit untuk dikomersialkan.
Begitupun sebaliknya apabila jumlah Migas Mudi masih besar, tentunya dapat dikomersialkan sekaligus mempersiapkan pembelinya terlebih dahulu.
“Sehingga pilihan untuk memperkecil gas buang menjadi pilihan tepat,†imbuh Ali Masyar.
Pihaknya juga menyarankan JOB P-PEJ untuk meniru tindakan operator Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang mampu menurunkan tekanan flarenya. Langkah tersebut tentunya untuk menyetabilkan aliran produksi Migas.
Meskipun keberadaan gas flare sangat penting bagi industri Migas, namun tidak seharusnya flare Pad A Mudi meluber hingga percikan apinya menyentuh tanah.
Sementara, hingga berita ini ditulis Suarabanyuurip.com, masih berusaha menghubungi Field Admin Superintendent JOB P-PEJ, Akbar Pradima. Pesan singkat yang dikirimkan melalui WhatsApp sejak pukul 08:20 WIB belum dibalas.(Aim)