SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro– Untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat, Indonesia perlu menyingkat waktu dari eksplorasi hingga eksploitasi minyak dan gas bumi (migas).
“Saat ini dari sisi lead time, daya saing Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas Taslim Z. Yunus, saat dihubungi suarabanyuurip.com, Selasa (12/7/2016).
Selama ini dari tahun ke tahun jeda waktu dari discovery sampai produksi semakin lama, bisa bertahun-tahun hingga puluhan tahun.
“Seperti di Blok Cepu yang membutuhkan waktu lima belas tahun, yakni sejak ditemukan 2001 sampai puncak produksi 2016 ini,” ujar Taslim mengungkapkan.
Waktu yang terlalu lama untuk eksplorasi dan eksploitasi migas ini mengancam ketersediaan pasokan energi.
“Waktu yang lama ini bisa jadi dikarenakan aspek-aspek nonteknis, seperti perizinan dan pembebasan lahan,” pungkasnya.
Berdasarkan data dari Dewan Energi Nasional (DEN), konsumsi minyak Indonesia saat ini sekitar 1,5 juta barel per hari (bph). Sedangkan cadangan minyak Indonesia berkisar 3,7 miliar barrel cukup untuk 11-12 tahun ke depan. Perhitungan ini dengan asumsi produksi 700.000-800.000 bph.
Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi minyak 6 persen per tahun, pada 2025 kebutuhan minyak menjadi 2,7 juta bph. Pertumbuhan konsumsi ini dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pertambahan populasi atau jumlah penduduk di Indonesia.(rien)