Bojonegoro Darurat Kekerasan Terhadap Anak

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Bojonegoro – Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sudah tergolong memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian pihak terkait.

Pemerhati masalah sosial budaya Bojonegoro, Didik Wahyudi mengungkakan, selama enam bulan ini dirinya mencatat ada sebelas kasus rentetan kekerasan terhadap anak yang terjadi di Bojonegoro.

“Ini sudah darurat,” tegas pria yang menjadi pengurus Pokja kebudayaan ini.

Salah satu kasus yang baru saja terjadi adalah pemerkosaan dan pembunuhan yang menimpa CAZ (10). Pembunuhan terhadap siswi SD kelas V asal Desa Pengkol, Kecamatan Tambakrejo, itu dilakukan oleh sepupunya.

“Kasus ini tergolong sadis. Korban diperkosa dulu kemudian dibunuh. Apalagi itu dilakukan oleh pelaku yang masih keluarganya sendiri,” tegas Didik.

Dari pengamatan dan data yang diperoleh Didik, kasus yang menimpa CAZ ini akibat maraknya video porno yang menyebabkan pelaku terpancing melakukan pemerkosaan.

“Saya pikir tidak hanya itu, sebab pemicu kekerasan anak juga akibat lahir dari fikiran pelaku yang memang sudah rusuh sejak awal,” ujarnya.

Baca Juga :   Libatkan Linmas Amankan Perlintasan Sebidang

Karena itu, Didik mendesak kepada pihak terkait, utamanya Kantor Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) untuk membuka kasus kekerasan terhadap anak dan bekerja keras menyelamatkan anak-anak Bojonegoro dari kekerasan.

“Ini harus menjadi peringatan keras bagi kita semua,” tandasnya.

Menurut dia, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. Di antaranya dengan menggalakkan kampanye stop kekerasan terhadap anak, dan internet sehat dikalangan pelajar.

“Kejahatan ini harus dilawan untuk menyelamatkan anak-anak kita,” tegas pria yang cukup lama berkecimpung di dunia jurnalistik itu. (suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *