SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan, kualitas udara di sekitar wilayah semburan lumpur panas di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro, tidak baik bagi manusia.
“Udara yang timbul dari semburan lumpur tersebut tidak sehat. Karena, gas yang keluar di atas ambang batas yang ditentukan,” kata Kepala Bidang BLH Pemkab Bojonegoro Hari Susanto, di Bojonegoro, Sabtu (30/7/2016).
Hal ini dikarenakan, gas NO2 (Nitrogen) yang keluar dari semburan di atas ambang batas dengan hasil 0,63 ppm. Padahal, baku mutu yang diperbolehkan yaitu 400 ug/meter kubik/0,2 ppm.
“Kalau gas NO2 itu dihirup langsung berbahaya bagi manusia. Tapi udara di sekitar pemukiman warga tidak tercemar gas NO2 karena jauh dari lokasi semburan,” jelasnya.
Sementara dari hasil deteksi yang dilakukan, dilokasi semburan lumpur tidak ditemukan gas beracun Hidrogen Sulfida atau H2S maupun kandungan gas SO2, dan NH3.
“Yang ditemukan yaitu gas Cl2 sebesar 0,001 ppm, tapi masih di bawah ambang batas yabg ditentukan, ” imbuhnya.
BLH telah mengambil contoh air dari semburan untuk menjalani uji kandungan di Laboratorium LH di Surabaya. Namun, hasilnya belum diketahui.
Sementara itu, Sekretaris Wilayah Kecamatan (Sekwilcam) Gondang, Bojonegoro, Basuki, mengatakan, semburan lumpur panas di Desa Krondonan, cenderung membesar dibandingkan pertama kali ditemukan.
Bahkan, air bercampur lumpur dari semburan di lima lokasi, masuk kedalam sebuah embung yang biasa dimanfaatkan petani untuk mengairi tanaman bawang merah yang luasnya di desa setempat kurang lebih 20 hektare.
“Petani  tidak berani menanam bawang merah lagi, karena air embung yang biasanya dipakai mengairi tercampur lumpur,” pungkasnya. (Rien)