SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Hampir seluruh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur (Jatim) pada musim kemarau tahun ini, sangat berpotensi terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Hal tersebut sesuai data Reatltime Pengamatan Sinoptik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur.
“Termasuk Tuban, Bojonegoro dan Lamongan, sangat berpotensi terjadi kebakaran,” kata Manajer Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Frans Supriyadi, melalui pesan singkat kepada suarabanyuurip.com, Senin (22/8/2016).
Frans menjelaskan, ancaman Karhutla semakin krusial seiring meningkatnya musim kemarau. Dimana pola hotspot karhutla pada tahun-tahun sebelumnya terjadi bulan September hingga Oktober. Tetapi untuk tahun ini La Nina terjadi lebih cepat, sehingga ancaman Karhutla sudah terdeteksi mulai bulan Agustus 2016.
Dalam peta BMKG, Kabupaten Tuban termasuk wilayah yang berwarna merah. Sehingga warna tersebut berarti potensi Karhutla besar. Sedangkan Kabupaten Bojonegoro, maupun Lamongan juga serupa.
Bahkan beberapa waktu lalu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam situs resmi BNPB telah menetapkan 5 provinsi berstatus siaga darurat menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Kelima provinsi tersebut adalah Riau (1/3/2016 hingga 30/11/2016), Jambi (27/7/2016 hingga 14/10/2016), Sumatera Selatan (7/3/2016 hingga 30/11/2016), Kalimantan Barat (1/6/2016 hingga 1/9/2016), dan Kalimantan Tengah (1/7/2016 hingga 8/10/2016).
Sedangkan provinsi lain yang langganan Karhutla seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Sumatera Utara hingga saat ini belum ada penetapan siaga darurat karhutla oleh gubernurnya.
“Meski Jatim belum ditetapkan masyarakat harus tetap waspada,” imbuhnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya, tidak membuka hutan dengan cara membakarnya di waktu musim kering, menjauhkan lokasi pembakaran sampah dengan semak, sering memantau lahan yang mudah atau sering terbakar, dan memasang papan peringatan di hutan/lahan yang mudah terbakar.
“Terpenting terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat, Perhutani, maupun instansi terkait,” pungkasnya. (Aim)