Berharap Proyek Migas Berjalan Normal

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro – Operator lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ) berharap, pihak desa bisa bekerja sama dengan baik agar proyek nasional yang ada di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur  tetap berjalan lancar.

Field Administration Superintendent  JOB PPEJ, Akbar Pradima, mengatakan, pihaknya membuktikan komitmennya dalam merealisasikan program tali asih kepada Pemerintah Desa (Pemdes) Ngampel.

Sesuai komitmen, manajemen JOB PPEJ langsung melakukan realisasi setelah menerima tangihan dari Pemdes atas enam program yang pernah diajukan warga. 

“Pembayaran tali asih tersebut sebagai wujud komitmen operator saat melakukan pengeboran di PAD B Sukowati,” imbuhnya.

Keenam program senilai Rp75 juta tersebut antara lain,  pengurukan jalan, ternak penggemukan sapi, ternak kambing, tambah modal usaha, usaha bengkel las, pengadaan tempat sampah, dan gerobak sampah roda tiga.

“Ini uang negara, berapa pun yang dikeluarkan harus dipertanggungjawabkan. Kita harap bisa segera tuntas, dan proses moving rig berjalan lancer,” tegas Akbar, Selasa (23/8/2016).  

Dia tambahkan, begitu ada tagihan dari Pemdes disertai bukti realisasi program yang diajukan warga, pihak JOB PPEJ langsung bisa melakukan pembayaran.

Baca Juga :   Jadi Pemain Utama Bisnis Gas Dunia, Ini 4 Kunci Prioritas Indonesia

Sesuai prinsip good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik, JOB PPEJ menolak mencairkan kompensasi bagi warga Ngampel.  Perusahaan meminta Pemdes Ngampel melakukan penagihan resmi, disertai bukti realisasi 6 program yang diajukan warga.

Warga Ngampel sempat melakukan penghadangan terhadap moving rig JOB PPEJ. Akibatnya rig tak bisa dipakai secara maksimal untuk kepentingan operasi JOB PPEJ.

Aksi warga tersebut menyebabkan JOB PPEJ, dan negara mengalami kerugian, dinilainya ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Kerugian itu timbul karena nilai sewa rig per hari terus dihitung, lalu biaya tenaga kerja, dan potensi minyak yang bisa diproduksi tak bisa dilakukan operator.

“Nilai kerugiannya besar kalau saat rig tak bisa dioperasikan,” tegas Akbar Pradima.

Manajemen JOB PPEJ juga berterima kasih atas segala masukan yang diberikan warga Ngampel. Ke depan perusahaan juga lebih intens menjalin komunikasi yang baik dengan warga, agar setiap program bisa tersosialisasi dengan baik.

Kesepakatan itu dicapai setelah adanya proses mediasi di Mapolres Bojonegoro. Hadir dalam mediasi hari Minggu (20/8/2016) tersebut, Akbar Pradima beserta jajarannya.

Lapangan Migas Blok Tuban yang dioperatori JOB PPEJ kini produksi minyaknya berada di kisaran 14.000 barel per hari (BPH). Ladang Migas akan habis masa kontraknya pada 2018 mendatang, setelah selama 30 tahun beroperasi.

Baca Juga :   Sebut Tak Ada Anggaran Kompensasi 2016

Pada tahun 2011 lalu, lapangan ini mencapai puncak produksi sekitar 40.000 BPH. Setelah itu karena faktor alam dan berbagai sebab lainnya menurun, kini berada di kisaran 14.000 BPH.

JOB PPEJ cukup lama menjadi backbone produksi minyak di Jatim, sebelum lapangan Banyuurip  di Blok Cepu, Kabupaten Bojonegoro dengan operator ExxonMobil Cepu Ltd mulai masuk tahap produksi. Oleh karena itu  sumbangsih dan peran JOB PPEJ dalam lifting minyak nasional, dan dinamika ekonomi lokal Tuban, Bojonegoro, serta Jatim cukup besar. Saat masa kontraknya habis, lapangan ini dikembalikan lagi kepada negara.

Sementara itu, Kepala Desa Ngampel, Pudjianto, mengatakan, ke depan perlu peningkatan komunikasi dan koordinasi antara JOB PPEJ dengan perangkat dan warga Desa Ngampel secara keseluruhan.

“Tapi saat ini sudah ada titik terang, pemindahan rig bisa dilakukan lagi dan pelaksanaan komitmen yang telah disepakati mesti diawasi banyak pihak,” pungkasnya. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *