SuaraBanyuurip.com –Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menolak rencana operator Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang akan meningkatkan produksi Banyuurip dari 165 ribu barel per hari (Bph) menjadi 200 ribu bph.
“SKK Migas tetap tidak menyetujui pengajuan itu,” kata Kepala Humas SKK Migas, Taslim Z Yunus, saat dihubungi Suarabanyuurip.com melalui telepon, Selasa (6/9/2016).
Menurutnya, SKK Migas hanya menginginkan puncak produksi lapangan ini hanya 165 ribu bph dengan berbagai pertimbangan. Diantaranya, secara tekhnis, apabila produksi meningkat 200 ribu bph maka harus ada perhitungan rongga batuan akibat pelarutan. Kemudian, adanya pengaruh lama puncak produksi.
“Jika 165 ribu bph, maka puncak produksi bisa mencapai 3 tahun. Sementara, jika 200 ribu bph, hanya bertahan kurang dari 1 tahun saja,” imbuhnya.
Pertimbangan selanjutnya, dengan adanya puncak produksi 165 ribu bph dinilai lebih ekonomis bagi pemerintah, jika dibandingkan dengan 200 ribu bph. Kemudian, Imbalan Domestic Market Obligation Fee (DMO) lebih tinggi dengan produksi 165 ribu bph, dibanding 200 ribu bph.
Selain itu, peningkatan produksi butuh revisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Untuk melakukan revisi AMDAL dari kapasitas 165 ribu bph menjadi 200 bph, butuh waktu yang lama. (Rien)