SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Operator Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) Pertamina EP Cepu (PEPC), menyebutkan, pemerintah tengah melakukan pengkajian untuk opsi menurunkan harga gas dari Lapangan J-TB di Blok Cepu.
“Karena, hingga saat ini masih melakukan negosiasi harga kepada pembeli gas yakni Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Pupuk Kujang,” ujar Public and Government Affair manager, PEPC, Abdul Malik, kepada suarabanyuurip.com beberapa waktu lalu.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah dengan mengurangi bagi hasil yang diterima oleh pemerintah. Hal ini bisa membuat harga gas menjadi lebih murah.
“Harapannya, bisa ada titik temu,” imbuhnya.
Dengan asumsi harga gas bumi sebesar US$ 8 per juta british thermal unit per hari (mmbtud), hasil penerimaan hingga kontrak berakhir pada 2035 mencapai US$ 12,97 miliar. Artinya jatah pemerintah dari penerimaan US$ 5,9 miliar.
Hingga saat ini, PEPC masih memasang harga gas sebesar US$ 8 per mmbtu (per juta British thermal unit).
Harga yang telah disepakati masih sesuai dengan revisi plant of development (PoD) yang telah disetujui pemerintah.
Unitisasi Lapangan Gas J-TB ditargetkan produksi 227 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari pada 2019 dan mencapai puncak produksi 315 MMSCFD pada 2020.
Rencananya, gas akan digunakan oleh PT Pupuk Kujang dan PT PLN pada saat puncak produksi tahun 2022, namun hingga kini belum mendapatkan kesepakatan harga. (Rien)