Longsor Intai 10 Kecamatan di Bojonegoro

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro – Sebanyak 10 kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berpotensi terjadi longsor. Kecamatan tersebut mayoritas berada di wilayah selatan yang berpotensi longsor menengah dan tinggi. 

Berdasarkan data Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG ) sepuluh kecamatan itu adalah Kecamatan Temayang, Ngambon, Sugihwaras, Tambakrejo, Margomulyo, Bubulan, Purwosari dan Malo. Sedang dua kecamatan berada di Bojonegoro barat (Kasiman) dan utara kota (Trucuk).

Menurut Ketua FPBI Bojonegoro M.Nurcholis, ini adalah sebuah early warning, tanda-tanda potensi longsor diantaranya adanya sumur-sumur penduduk yang biasanya masih terdapat air tiba-tiba air aumur tersebut kering. Selain itu bangunan tinggi, pohon besar serta bangunan tegakan (tiang listrik, tower) mendadak terlihat miring.

Faktor lainnya, lanjut Nurcholis, adalah kejadian alam yang bisa dijadikan patokan potensi longsor adalah keruhnya mata air yang biasanya jernih. “Apalagi jika ada sungai yang biasanya mengalir deras tiba-tiba alirannya mengecil atau bahkan berhenti, itu adalah tanda berpotensi terjadinya longsor serta memungkinkan sewaktu-waktu terguyur hujan bisa terjadi banjir bandang,” jelasnya.

Baca Juga :   JOB P-PEJ Sumbang Tuban Raih Piala Adipura

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Andik Sujarwo mengatakan pihaknya telah melakukan pertemuan dengan camat untuk mensosialisasikan potensi bencana termasuk ancaman pergerakan tanah di 10 kecamatan.

“Sosialisasi sudah kita lakukan dua kali dalam sebulan ini. Kita harapkan dari sosialisasi ini diteruskan ke kepala desa hingga ke masyarakat,” sambung Andik.

Dia mengungkapkan, sejauh ini belum ada tanda-tanda pergerakan tanah yang terjadi di 10 kecamatan di wilayahnya. Karena sepuluh wilayah yang masuk data PVMBG itu bukanlah pegunungan. Melainkan perbukitan dan dataran tinggi.

“Insyaallah di Bojonegoro tidak ada,” tegasnya.

Namun demikian pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan dan pemanataun curah hujan dan kondisi lingkungan dari petugas di pos BPBD yang tersebar di tujuh titik. Yakni Pos Kota yang memantau kondisi Sungai Bengawan Solo dan sekitarnya, pos Baourno, Temayang, Gondang dan Sekar, Ngambon, serta Pos Padangan.

“Petugas di lapangan selalu memberikan laporan empat kali dalam sehari yakni pukul 7 pagi, 12 siang, 7 malam dan 12 malam,” ujarnya.

Baca Juga :   Bojonegoro Segera Bangun Jalan Lingkar Selatan, Ini Jalur yang akan Dilewati

Dia menambahkan, BPBD juga telah memetakan titik-titik rawan bencana, lokasi pengungsian, dan menyiapkan petugas penanganan bencana di masing-masing wilayah.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *