SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pengkajian dan Jaringan Informasi Untuk Publik (PIJAK) mulai getol melakukan pemantauan aktivitas proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB), yang di operatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC). Salah satu yang menjadi pantuan seriusnya adalah terkait dengan keterlibatan warga sekitar. Utamanya adalah warga yang berasal dari wilayah Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
“Sementara kami fokuskan di keterlibatan warga sekitar J-TB. Umumnya warga dari wilayah Kecamatan Ngasem, dan khususnya adalah warga Desa Ngasem,†kata ketua LSM PIJAK, Munawar Cholil, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (11/10/2016).
Hasil pantauan yang dilakukan tim LSM PIJAK yang berkantor di Desa Ngasem, kata Cholil, sejauh ini sejak awal tahun 2016 dimulainya pengerjaan proyek J-TB masih minim keterlibatan warga Desa Ngasem dibandingkan dengan warga desa dari wilayah kecamatan tetangga. Seperti dari warga Kecamatan Gayam, dan Purwosari, maupun luar daerah.
“Dibandingkan dari Gayam dan Purwosari, maupun luar daerah, untuk warga Desa Ngasem masih minim dilibatkan. Suatu contoh, misalnya tenaga kerja (Naker) yang dibutuhkan itu 15 orang, Desa Ngasem cuman dua, selebihnya dari luar Ngasem,†ungkapnya mencontohkan.
Dia menyarankan, PEPC sebagai operator proyek J-TB untuk memperhatikan warga Desa Ngasem, karena tak sedikit warga Ngasem yang pernah terlibat di proyek Banyuurip, Blok Cepu. “Meski belum dibilang maksimal, setidaknya mereka yang pernah terlibat di proyek Banyuurip tentunya sudah memiliki pengalaman,†ujar pria yang juga Ketua Karang Taruna Desa Ngasem ini.
“Tim kami terus melakukan pemantauan terkait aktivitas di J-TB. Intinya kami berharap PEPC, dan kontraktornya memperhatikan warga Desa Ngasem. Karena lokasi tapak sumur gas tersebut berada di wilayah Kecamatan Ngasem. Jangan malah terkesan menganak tirikan, nanti kalau ada gejolak sosial baru bingung,†pungkasnya.(sam) Â