SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, diminta mengembalikan uang Rp550 miliar kepada pemerintah pusat akibat adanya lebih salur dana bagi hasil (DBH) migas untuk tahun 2015. Lebih salur ini disebabkan tingginya cost recovery di Blok Cepu yang akhirnya mempengaruhi pendapatan DBH migas yang diterima Bojonegoro.
Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) Bojonegoro, Herry Sudjarwo menyampaikan, sesuai laporan Menteri Keuangan, adanya lebih salur tersebut disebabkan perolehan penjualan minyak mentah baik dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, Lapangan Sukowati, Blok Tuban, sebagian kecil sumur tua dan Tiung Biiru dimanfaatkan untuk membayar cost recovery Blok Cepu.
Dari hasil penghitungan pemeritah pusat, nilai cost recovery di Blok Cepu tahun 2016 per November yang harus dibayarkan Pemkab Bojonegoro sebesar USD$1.223.393.443. Kondisi ini dinilai Herry merugikan Pemkab Bojonegoro jika harus dibayarkan secara langsung.
“Karena semua penghasilan minyak di Bojonegoro larinya untuk Blok Cepu,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Selasa (8/11/2016).
Dia mengungkapkan, penerimaan DBH Migas tahun 2016 ini dari estimasi Rp1,4 triliun hanya terealisasi Rp663 miliar. Jumlah itu sama dengan tahun 2015.
“Kalau pembayaran itu diambilkan dari tahun ini tentu tidak bisa karena dananya sudah terpakai semua,” tandasnya.
Namun apabila lebih salur itu dibayarkan tahun 2017 mendatang saat Blok Cepu sudah mencapai produksi puncak, lanjut Herry, maka Bojonegoro diperkirakan hanya akan memperoleh DBH Migas sebesar Rp35 Miliar. Karena dari estimasi DBH Migas tahun 2017 sebesar Rp900 miliar akan dikurangi lebih salur sebesar Rp550 miliar. Kemudian jumlah itu akan dikurangi lagi hutang Pemkab Bojonegoro kepada kontraktor Rp228 miliar, juga lebih salur tahun 2014 Rp87 miliar.
“Habis sudah, padahal semua pembangunan di Bojonegoro telah berjalan tinggal pembayaran, tapi tidak ada uangnya,” tandasnya.
Dengan kondisi ini bukan tidak mungkin kedepan pendapatan asli daerah Bojonegoro setara wilayah kota tanpa memiliki sumber daya migas.
“Semua bisa saja terjadi,” pungkasnya.(rien)