SuaraBanyuurip.com - Ali Imron‬
‪Yogyakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jabanusa memproyeksikan industri Migas saat ini tidak hanya sebagai sumber pendapatan Negara, namun lebih tepatnya menjadi penggerak industri Nasional.
Target tersebut menyusul kabar minimnya penerimaan Negara dari sektor Migas beberapa tahun kedepan.‬
‪”Tahun ini kemungkinan besar penerimaan Negara dari Migas lebih kecil dari tahun sebelumnya,” kata Kepala Urusan Hubungan Masyarakat (Kaur Humas) SKK Migas Perwakilan Jabamanusa, Mohamad Fatah Yasin, kepada suarabanyuurip.com, dalam kegiatan media visit and gathering di salah satu hotel di Yogyakarta, Kamis (10/11/2016).‬
‪Fatah menjelaskan, minimnya penerimaan Migas dipengaruhi anjloknya harga minyak dunia. Semula harga minyak mencapai 100 dolar/barel, namun saat ini harga minyak hanya 50 dolar/barel.‬
‪Data tahun 2014 saat harga minyak masih stabil 100 dolar/barel, Negara masih mampu menerima pendapatan kisaran Rp 300 triliun. Seiring turunnya produksi Migas Nasional, pada tahun 2015 Negara hanya menerima Rp 177 triliun.‬
‪”Catatan terakhir saat ini produksi hulu Migas Nasional bertahan di 520 Barrels Per Day (BPD),” imbuhnya.‬
‪Menyikapi kondisi alamiah tersebut, SKK Migas tetap optimis dan terus meningkatkan eksplorasi meskipun setiap kali produksi didominasi gas. Sekaligus meningkatkan komunikasi bersama stake holder termasuk jurnalis, untuk memahami kondisi produksi hulu Migas.‬
‪Menurutnya, perkembangan produksi industri hulu Migas tidak terlepas dari peran media. Saat ini peran jurnalis sangat penting, dan berperan mencerahkan publik melalui warta yang berimbang.‬
‪Selain itu, menjadi kontrol sosial bagi pemangku kebijakan di internal Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S), dan Pemerintah. Menjadi kawan diskusi, sekaligus penyetabil gejolak yang terjadi di sekitar perusahaan.‬
‪”Harapan kami media dapat menjadi tim bersama K3S dan SKK Migas untuk mendukung produksi Migas Nasional,” pungkasnya. (Aim)