SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur menghimbau siapapun yang ingin menyalurkan bantuan kepada korban banjir luapan Bengawan Solo untuk satu pintu. Himbaun tersebut untuk memeratakan bantuan, sekaligus menghindari penyaluran paket Sembako menumpuk di satu titik.
“Kami harapkan setiap kali ada bantuan dikordinasikan dengan BPBD,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (3/12/2016).
Joko menjelaskan banjir yang terjadi selama sepekan di wilayahnya telah merendam sedikitnya 5.672 rumah di empat kecamatan. Bantuan BPBD sebanyak 1.000 paket juga telah habis disalurkan ke warga yang paling terdampak dan membutuhkan.
Kondisi ini perlu diperhatian bagi stakeholder terkait agar bantuan baik Sembako, nasi bungkus, maupun bahan mentah keperluan makan didistribusikan melalui satu pintu.
“BPBD akan menunjukkan titik-titik yang belum tersentuh bantuan, dan tim di lapangan akan membantu ke lokasi jika kondisinya mendukung,” imbuhnya.
Perlu diketahui, dari empat kecamatan yang tergenang Kecamatan Rengel yang paling parah. Catatan terakhir dari 16 desa di Kecamatan Rengel, hanya lima desa yang aman dari banjir karena letaknya lebih tinggi dari Bengawan Solo.
Sebanyak 2.514 rumah terendam, dan tidak kurang dari 10.056 jiwa membutuhkan perhatian pangan. Hingga sekarang 28 sekolah juga masih terendam, hasilnya anak-anak tidak dapat belajar. Ditambah 1.551 hektar sawah, 88 hektar tegalan, dan 31 hektar pekarangan masih terendam.
“Kondisi di Kecamatan Soko, Plumpang, dan Widang juga demikian,” jelasnya.
Sementara, Camat Rengel, Mahmud, juga berharap setiap kali bantuan dilaporkan ke posko 1 bencana di kantor kecamatan yang berdiri sejak hari Sabtu (25/11) lalu. Banyak warga terdampak yang harus dibantu, tetapi harus diprioritaskan yang paling membutuhkan.
“Jika tidak satu pintu, jelas stok bantuan yang ada tidak akan mencukupi,” sambungnya.
Menurutnya banjir tahun 2016 ini, hampir serupa dengan banjir Bengawan Solo tahun 2007. Dimana debir air dari hulu terus naik, dan aliran ke hilir lambat.
Pihaknya khawatir apabila banjir tidak segera surut, bakal terjadi krisis pangan berkepanjangan. Pertimbangannya dari luasan lahan sawah yang tergenang ada padi yang tinggal dua pekan panen, maupun tinggal sepekan.
Diketahui, di posko 1 bencana di Kecamatan Rengel sedikitnya ada 140 wanita dan anak-anak yang mengungsi. Sedangkan 50 laki-laki memilih tidur bersama ternaknya lapangan Desa Rengel. (aim)