SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Operator proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB), PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) berharap Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) bisa dilakukan pada akhir tahun ini.
“Kalau tidak, pembangunan fasilitas produksi akan molor,” ujar Direktur Utama PEPC, Adriansyah, saat dihubungi suarabanyuurip.com, Selasa (6/12/2016) kemarin.
Saat ini pihaknya telah sepakat menjual gas kepada PT Pertamina (Persero), seharga US$ 7 per juta british thermal unit per hari (MMBTU) dengan eskalasi dua persen.
Harga tersebut disepakati agar gas segera laku dan tidak menyebabkan penundaan proyek. Jika ada penundaan maka akan mempengaruhi keekonomian proyek.
“Keekonomian proyek bisa turun dan harga gas akan lebih tinggi,†pungkasnya.
Sesuai kesepakatan sebelumnya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana membeli 95Â Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD (gas) atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari (gas)Â untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU).
Berdasarkan perhitungan rencana pengembangan wilayah (Plan of Development/PoD) lapangan Tiung Biru pada tahun 2012, harga dari Pertamina sebesar US$ 8 dengan eskalasi 2 persen per MMBTU.
Tidak hanya PLN, Pupuk Kujang Cikampek (PKC) juga masih dalam pembahasan. Karena  PKC menginginkan harga yang lebih rendah, yakni US$ 7 per MMBTU.(rien)