SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Proyek Pipa Gas Gresik-Semarang (Gresem) di wilayah Kabupaten Blora, Blora, Jawa Tengah, yang dilaksanakan Pertamina Gas (Pertagas) masih kekurangan lahan. Tambahan lahan tersebut sebagai akses jalan untuk memperlancar pekerjaan.
Camat Kedungtuban, Dasiran mengungkapkan, belum lama ini pihaknya telah mengikuti sosialisasi dari Pertagas terkait rencana pembebasan lahan.
“Intinya mereka masih kekurangan lahan,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Kamis (8/12/2016).
Awalnya lahan yang dibutuhkan untuk proyek pipa gas Gresen hanya sekitar 7 meter. “Sekarang bertambah menjadi 12 meter,” ucapnya.
Penambahan lahan tersbut dilakukan supaya tidak mengganggu aktivitas warga. Karena dalam pekerjaan nanti mendatangkan alat berat dan meletakan limbah tanah bekas galian.
“Sehingga membutuhkan lahan yang cukup luas,” tuturnya.
Warga di dua terdampak yakni Desa Klagen dan Kemantren telah mencairkan kompensasi ganti rugi atas lahan yang digunakan untuk proyek tersebut.
Selain melintasi Kecamatan Kedungtuban, proyek pipa gas Gresem melalui Kecamatan Cepu. Hanya saja pihak kecamatan belum mengetahui adanya rencana penambahan pembebasan lahan.
“Mungkin belum sampai Cepu. warga terdampak juga belum ada yang mencairkan kompensasi, hanya sebatas pengumpulan berkas,” sambung Sekretaris Kecamatan Cepu, Edy Purnomo dikonfirmasi terpisah.
Untuk diketahui, proyek gas Gresem ini memiliki kapasitas 500 milion standar cubic feet per day (MMSCFD). Proyek tersebut dilaksanakan oleh Konsorsium PT Wijaya Karya (Persero) – PT Remaja Bangun Kencana Kontraktor – PT Kelsri.
Pipanisasi ini melewati empat kabupaten/kota di Jawa Tengah, dan tiga kabupaten di Jawa Timur. Yang dimulai dari metering Station Gresik Pertagas dan berakhir di Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah.
Pembangunan ruas pipa baru ini menelan biaya USS515,7 juta. Sayangnya, proyek tersebut molor dari target yang ditentukan. Sesuai target awal, proyek ini selesai dalam waktu18 bulan, dan on stream pada kuartal pertama tahun 2016.
Pada saat peresmian proyek ini oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung, pada 9 Oktober 2014 silam, Pertagas mengaku telah mendapat alokasi gas excess dari Jawa Timur yang berasal dari Kangean dan Husky sebesar 30 MMSCFD di tahun 2016 dan pada 2019 juga mendapat suplay gas Cepu Lapangan Tiung Biru dan Cendana sebesar 100 MMSCFD dan potensi gas Cepu Lapangan Alas Tua sebesar 110 MMSCFD mulai 2022.(ams)