SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – PT Geo Cepu Indonesia (GCI), Kerja Sama Operasi (KSO) Pertamina EP Aset 4 Field Cepu, yang mengerjakan sumur tua di wilayah Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, disebut belum memberikan kontribusi apapun kepada daerah hingga saat ini. Padahal perusahaan tersebut sudah lebih dari setahun menggarap sumur tua peninggalan Belanda.
Sekretaris Komisi A DPRD Bojonegoro, Doni Bayu Setiawan mengatakan, seharusnya PT GCI tidak asal memiliki kantor di Bojonegoro. Semua itu ada prosesnya, termasuk membayar pajak daerah.
“Kalau punya kantor disini, NPWP nya ya Bojonegoro jadi seharusnya membayar pajak juga, setahu kami belum ada kontribusi apapun,” tegasnya kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (10/12/2016).
Selain itu, keberadaan PT GCI selalu membuat masyarakat di wilayah sumur tua selalu resah. Sejak PT GCI menjadi KSO di sumur tua, hanya bisa mengusir penambang dengan cara yang kasar.
“Saat ada sumur existing dikelola masyarakat dan keluar minyaknya langsung diambil alih dengan cara-cara yang tidak etis,” tegasnya.
Politisi PDI-P ini menyampaikan, rapat dengar pendapat (hearing) dengan PT GCI, Pertamina EP Aset IV dan penambang akan dilanjutkan kembali pada 27 Desember mendatang.
“Rapat kemarin tidak membuahkan hasil karena pimpinan GCI tidak ada yang hadir. Padahal, penambang butuh solusi agar tidak langsung kehilangan mata pencaharian jika sumur diambil alih,” pungkas Doni.(rien)