SuaraBanyuurip.com - Ali Imron
Tuban– Kabar meledaknya sumur tua Gegunung beberapa waktu lalu, diikuti melubernya limbah minyak ke sungai langsung disikapi serius oleh Pertamina Eksplorasi Produksi (EP) Asset 4 Field Cepu. Kerja Sama Operasional (KSO) PT Tawun Gegunung Energy (TGE) selaku pengelola Lapangan Gegunung di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur diminta segera menyediakan penampung limbah minyak.
“PT TGE harus segera membuat bak penampung limbah pada sumur-sumur yang ditambang atau dikerjakan,” tegas Field Manager Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Agus Amperianto, melalui pesan singkat yang diterima suarabanyuurip.com, Senin (19/12/2016).
Menurut Agus, pengelola Lapangan Gegunung harus menjaga safety pekerjanya dan keamanan lingkungan. Jangan sampai aktivitas reaktifasi maupun service sumur tua berdampak pada lingkungan.
Apabila di sekitar sumur tua belum disediakan bak penampung limbah cair, TGE harus menghentikan sementara kegiatan penambangannya. Selain itu, segera melokalisir area yang terkena dampak tumpahan minyak supaya tidak melebar ke sungai.
Menyikapi melubernya limbah minyak, Â Kabag Humas dan Media Pemda Tuban, Teguh Setyabudi, mewakili BUMD Perusahaan Daerah Aneka Tambang (PDAT) belum membalas pesan singkat suarabanyuurip.com, yang dikirimkan sejak pukul 12:26 WIB.
Begitupun dengan Field Manager PT TGE, Ervino, juga belum memberikan komentar terkait meledaknya sumur tua saat reaktifasi beberapa waktu lalu.
Informasi sebelumnya, petugas keamanan Polres Tuban di Lapangan Gegunung, Angga, mengaku melihat langsung beberapa sumur tua meledak. Kejadian tersebut sudah sepekan lebih, dan baru dapat diungkap setelah suarabanyuurip.com ke lokasi.
Minimnya signal di lokasi menjadikan petugas kesulitan menginformasikan insiden tersebut ke Mapolres Tuban. Pihaknya hanya khawatir limbah cair yang meluber ke sungai berdampak pada hasil pertanian warga di daerah hilir.
“Ada lima kali ledakan, dan terakhir meledak tanggal 14 Desember 2016,” ungkapnya.
Seorang petani di Dusun Tuwiwiyan, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Darsin membenarkan apabila sejak tahun 2014 sawahnya yang tepat berada di tepi sungai aliran dari Lapangan Gegunung kerap dicemari limbah minyak.
Luberan limbah minyak terakhir kali sampai ke sawahnya, sekira bulan November 2016 kemarin. Biasanya limbah masuk ke persawahan warga, bersamaan dengan banjir bandang dari wilayah hilir.
“Petani hanya berharap pihak terkait segera mengantisipasi luberan supaya tidak meluber kembali di sawah warga,” tandasnya. (Aim)