Gara-gara "Telolet" Omset Penjual Terompet Turun

Penjual terompet

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Menjelang pergantian tahun baru 2017, sejumlah pedagang terompet di jalur Pantura Tuban, Jawa Timur mengaku hasil penjualan terompetnya turun drastis. Rata-rata perharinya hanya mampu menjual 15 terompet, lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya mencapi 30 terompet lebih.

“Penyebabnya banyak konsumen yang mencari terompet bersuara telolet,” kata seorang penjual terompet asal Wonogiri, Jawa Tengah, Rano, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di Jalan Panglima Sudirman utara Alun-alun Tuban, Senin (26/12/2016).

Permintaan pasar tersebut menjadikan penjualan terompetnya lesu, sebab sampai kini belum ada yang memproduksi terompet tersebut. Maraknya fenomena “Om Telolet Om” di Medsos sepekan terakhir ini, sedikit banyak mempengaruhi usahanya.

Jenis terompet baru berbentuk Naga yang digadang-gadang habis sebelum malam tahun baru ternyata meleset. Sampai H-6 menjelang malam tahun baru, hampir semua stok jenis terompet baru berkurang 30 persen.

“Lesunya pembeli sudah terjadi sejak taggal 21 Desember 2016 lalu, saat dirinya bersama anak dan istrinya tiba di Tuban,” imbuhnya.

Baca Juga :   KAI Daop 8 Surabaya Sediakan Diskon untuk 200.000 Penumpang Angkutan Lebaran 2026

Dalam sehari pendapatan Rano rata-rata Rp 100 ribu sampai Rp 110 ribu. Berbeda dengan tahun sebelumnya omset sehari mencapai Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu.

Terpisah, seorang pembeli asal Kecamatan Jenu, Yatmi, membenarkan anak-anaknya sejak beberapa hari terakhir merengek minta dibelikan terompet yang bersuara telolet. Padahal secara logika, suara itu ada di klakson bus.

“Setelah berkeliling mencarinya ternyata tidak ada terompet bersuara telolet,” jelasnya.

Meskipun buah hatinya ikut dilanda demam telolet, dia hanya berharap prestasi akademik anaknya tidak terganggu. Bukan hanya buah hatinya, puluhan anak berbagai usia di Kecamatan Jenu juga demam telolet.

“Saban hari memajang kertas karton bertuliskan “Om Telolet Om” berharap ada bus yang membunyikan klaksonnya,” tandasnya.

Diketahui, dari belasan lapak terompet rata-rata jenisnya sama. Mulai terompet kupu, ayam, hingga terompet plastik yang suaranya lebih keras. Untuk harganya minimal lima ribu, sampai 25 ribu rupiah. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *