Aksi Ricuh, Satu Mahasiswa Pingsan

Mahasiswa pingsan

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban– Aksi unjuk rasa penolakan PP Nomor 60 tahun 2016, Pengurus Cabang (PC) Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tuban, Jawa Timur di depan gedung DPRD setempat ricuh. Tak kurang dari 40 mahasiswa terlibat aksi dorong dengan aparat kepolisian, dan mengakibatkan satu mahasiswa pingsan.

Hal ini sangat disayangkan oleh Ketua Umum (Ketum) PC PMII Tuban, Khilyatun Nafisah, ketika dikonfrontir media setelah anggotanya diselamatkan anggota PMII dari kerumunan massa.

“Seharusnya insiden seperti ini tidak perlu terjadi, bila polisi tidak arogan,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Rabu (18/1/2017).

Padahal aksi massa PMlI di bundaran patung Letda Soecipto berjalan tertib, dan tidak mengganggu pengguna jalan. Suasana sedikit memanas setelah massa tiba di gedung dewan, dan tidak ada satupun wakil rakyat yang menemui.

Negosiasi berjalan cukup alot, sampai perwakilan mahasiswa PMII diizinkan menyisir setiap ruangan dewan. Ternyata benar tak satupun dari 50 anggota dewan berada di tempat. Mengetahui kekosongan ini sebagian massa justru tambah beringas.

Baca Juga :   Antisipasi Kekeringan, Siapkan 1,4 juta liter Air

Luapan yel yel kebanggaan mereka disuarakan, bahkan kerap mengolok-olok kinerja dewan yang melempem. Ketum PMMI dan beberapa Koordinator Lapangan (Korlap) aksi terus berusaha menyulut semangat massanya.

Sampai pada aksi dorong mendorong antara massa dan aparat keamanan, satu mahasiswa jatuh pingsan. Melihat kawannya tersungkur, massa lainnya tidak tinggal diam. Bahkan menuding polisi bersikap arogan dalam mengamankan aksi unjuk rasa.

“Kami tidak terima dengan perlakuan polisi, dan harus bertanggung jawab medisnya,” ungkapnya.

Setelah aksi bubar beberapa mahasiswa dan polisi yang paham menangani pingsan langsung bertindak. Beberapa pertolongan pertama pada korban belum membuahkan hasil, sampai ada saran untuk ditangani tim medis.

Kasatsabhara Polres Tuban, AKP Eko Adi Wibowo, menegaskan, bahwa anggotanya hanya bertugas mengamankan aksi unjuk rasa. Tidak ada niat atau maksud menciderai, mungkin saja korban yang pingsan perutnya dalam keadaan kosong.

“Kami tidak membela mahasiswa ataupun dewan, hanya mengamankan penyampaian aspirasi,” pungkasnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Modin dan Ustad Disiapkan Insentif Rp1,2 Miliar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *