Hama Tikus Resahkan Petani Lamongan

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan – Sebagian petani di wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, resah dengan munculnya serangan hama tikus yang menghancurkan tanaman padi di sawahnya.

Beberapa wilayah pertanian yang diserang hama tikus, yaitu Kecamatan Sekaran, Maduran, Pucuk dan Babat. Akibat serangan binatang pengerat itu petani harus menelan kerugian hingga puluhan juta rupiah.

“Sudah beberapa kali tanam padi ulang karena selalu ludes di serang tikus. Kalau dihitung kerugianya bisa mencapai puluhan juta rupiah,” kata petani asal Desa Gumantuk, Kecamatan Maduran, Bekti, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (17/1/2017).

Berbagai upaya telah dilakukan untuk membasmi hama tikus, namun tidak membuahkan hasil maksimal. Seperti memasang racun tikus, mengasapi lubang tikus hingga beramai-ramai memburu tikus di sawah.

Cara terakhir yang saat ini banyak dilakukan petani adalah memasang arus listrik di sekitar sawah mereka.

“Cara ini sebenarnya cukup berbahaya. Tapi mau bagaimana lagi terpaksa kami lakukan untuk menangulangi serangan hama tikus,” ucapnya.

Senada diungkapkan petani asal Desa Porodeso Sulaiman. Menurutnya, ada dua cara yang dilakukan petani dalam memasang arus listrik sebagai jebakan tikus. Pertama dengan mengalirkan listrik langsung dari rumah, dan kedua memasang listrik dengan genset.

Baca Juga :   Dinihari Tadi Suyoto Resmikan Jembatan Kedunglaban

“Dibanding menyalurkan listrik langsung dari rumah petani lebih memilih menyalakan listrik dengan genset karena resikonya lebih kecil,” kata Sulaiman.

Genset yang diletakkan diarea persawahan itu arus listriknya langsung mengalir ke kawat yang dipasang di galengan (pematang) sawah. Dengan dinyalakan setiap malam hari.

Untuk membuat arus listrik dengan genset ini petani harus mengeluarkan anggaran lumayan besar. Karena dalam semalam, genset membutuhkan bahan bakar antara 4 sampai 5 liter.

“Jadi setiap malam harus mengeluarkan biaya minimal Rp25 ribu,” ujar Mubaidi bernada mengeluh.

Tak ada pilihan lain bagi petani meski harus mengeluarkan biaya besar dan beresiko demi bisa menyelamatkan tanaman padi mereka.(tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *