Siaga II, Belum Ada Laporan Tanggul Kritis

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Memasuki status siaga kuning (II) di titik Bojonegoro, Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur mengaku belum menerima laporan adanya tanggul Sungai Bengawan Solo yang kritis dari masing-masing camat. Sejak bulan Januari kemarin, pemilik wilayah di tepi sungai telah diintruksikan memantau kondisi tanggulnya secara estafet.

“Alhamdulillah belum ada laporan tanggul kritis,” ujar Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com, Jumat (3/2/2017).

Apabila ada laporan tanggul kritis, Joko langsung melaporkannya ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk diperbaiki. Hal ini membutuhkan sinergi yang baik, dan pemahaman dari masyarakat setempat.

Pencegahan dini sangat penting dilakukan untuk mengantisipasi banjir lauapan Bengawan Solo. Pada prinsipnya semakin masyarakat siap, semakin kecil pula jumlah kerugiannya.

“Ketika ada kenaikan tren air dari hulu setiap camat wajib memberikan laporan terbaru kondisi di wilayahnya,” imbuhnya.

Pemetaan dini ini sangat penting fungsinya, dan sebagai acuan pendirian posko, penyaluran bantuan ketika terjadi banjir. Setidaknya ada empat kecamatan yang harus waspada, mulai Kecamatan Widang, Plumpang, Rengel, dan Soko.

Baca Juga :   Pembatas Jalan Poros Terkikis Banjir

Bahkan beberapa kecamatan yang dilintasi anak sungai Bengawa Solo Kali Kening, acap kali terdampak banjir. Mulai Kecamatan Kenduruan, Jatirogo, Bangilan, Singgahan, sampai Parengan.

“Melalui komunikasi dan sinergi semua pihak kami optimis masyarakat sudah siap menghadapi banjir,” jelasnya.

Manajer Pusdalops BPBD, Frans Supriyadi, menambahkan pihaknya terus memantau wilayah hulu. Sampai dengan pukul 09:00 WIB TMA di titik Karangnongko mulai surut yakni 27.64 pielschaal. Sedangkan di titik pantau Bojonegoro, Jawa Timur masuk siaga II 14.34 pielschaal dalam kondisi stabil.

“Sedangkan di titik Babat siaga kuning 7.73 pielschaal,” sambungnya.

Meski Bulan Februari masuk puncak musim penghujan, dia berharap curah hujan di wilayah hulu berkurang. Sekaligus di wilayah hilir (laut) tidak terjadi fenomena pasang. Jika kedua hal ini terjadi tentu akan memicu luapan Bengawan Solo di wilayahnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *