SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, memiliki cara unik untuk mengurangi angka kemiskinan dan putus sekolah di wilayahnya. Â Yakni menjadikan semua camat dan kepala desa (Kades) di Bojonegoro sebagai orang tua warga miskian dan anak putus sekolah.
Bupati Bojonegoro, Suyoto menjelaskan, dengan menjadikan para camat dan kepala desa sebagai orang tua warga miskin dan anak putus sekolah akan menjadikan mereka komitmen dan memiliki tanggungjawab untuk mengendalikan masalah tersebut di wilayahnya.
“Karena pengendalian angka kemiskinan tak kan pernah bisa terwujud tanpa sinergi dan kolaborasi semua pihak,” tandasnya.
Setelah mengukuhkan para camat, bupati menginstruksikan kepada semua camat di wilayahnya untuk mengukuhan kepala desa di masing-masing wilayahnya sebagai orang tua warga miskin dan anak putus sekolah.
“Foto pengukuhan kepala desa ini harus dikirim atau diposting ke grup WhatsApp dan media sosial instansi masing-masing,” ucapnya.
Meindaklanjuti instruksi tersebut, Pemerintah Kecamatan Purwosari hari ini, Senin (6/2/2017), telah mengukuhkan semua kepala desa dan perangkat desa di wilayahnya. Pengukuhan dilakukan bersamaan apel pagi di halaman pendapa kecamatan setempat dan diikuti instansi vertikal di wilayah setempat.
Menariknya, dalam pengukuhan itu semua kepala desa dan perangkat desa diambil sumpahnya untuk mengemban tanggungjawab mulia tersebut.
Camat Purwosari, Bayudono Margajelita berharap dengan pengukuhan ini para kepala desa, perangkat desa, aparatur kecamatan dan dinas instansi vertikal di Kecamatan Purwosari  dapat melaksanakan tanggungjawab sebaik -baiknya.
“Bapak ibu telah diambil sumphanya untuk menjadi orang tua warga miskin dan anak putus sekolah. Jadi amanah ini harus dilaksanakan dengan baik,” pesan Bayudono.
Pengukuhan dan pengambilan sumpah ini mendapat dukungan para kades. Menurutnya hal ini sebagai salah satu upaya membangun kesepahaman dan mewujudkan tanggung jawab bersama untuk mengurangi angka kemiskinan dan putus sekolah di wilayah Bojonegoro.
“Apalagi tadi ada pengambilan sumpah untuk menjadi bapak/ibu warga miskin. Ini menjadikan para kades lebih tergugah lagi,” sambung Ketua Paguyupan Kepala Desa se Kecamatan Purwosari, M Choirul Huda dikonfirmasi terpisah.
Sesuai data yang diperoleh suarabanyuurip.com, jumlah kemiskinan di Bojonegoro pada 2016 lalu meningkat dibanding tahun 2015, dari 572.535 jiwa menjadi 611.483 jiwa. Dengan angka tersebut Bojonegoro menduduki peringkat sembilan kabupaten termsikin dari 38 kabupaten/kota di Jatim.
Padahal APBD Bojonegoro tahun 2016 lalu meningkat dari sebelumnya Rp2,9 triliun pada tahun 2015, menjadi Rp Rp3,7 triliun. Bahkan APBD Bojonegoro tahun 2016 lalu tertinggi ke dau di Jatim.(suko)Â