Klaim Dampak Flare Mudi di Bawah Ambang Batas

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Menjelang berakhirnya kontrak Blok Tuban tahun 2018 mendatang, Joint Operating Body Pertamina Petrochina Easta Java (JOB P-PEJ) kembali menegaskan bahwa dampak flare di Central Processing Area (CPA) Pad A Lapangan Mudi di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur, sudah di bawah ambang batas.

Total produksi gas JOB P-PEJ kini hanya berkisar 16–17 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/ MMSCFD), jauh sangat turun dibanding tahun 2012-2014 yang bisa mencapai 30 MMSCFD bahkan lebih.

“Sudah di bawah ambang batas sehingga flare tidak berdampak pada lingkungan,” ujar General Manager JOB P-PEJ, Akbarsyah, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (8/2/2017).

Pada saat puncak produksi gas, PT Gassuma belum mampu menyerap semuanya. Mengantisipasinya JOB P-PEJ menggunakan alat bernama Enclosed High Temperature Flare (EHTF), untuk mengurangi dampak paparan panas. Sekaligus cahaya yang ditimbulkan pada lingkungan saat dilakukan pembakaran gas buang.

Akbarsyah menjelaskan, waktu itu produksi minyak di atas 35.000 barel per hari, otomatis produksi gasnya besar. Berbeda dengan saat ini produksi minyak tinggal sekitar 12.000 – 13.000 barel per hari sehingga produksi gas juga turun drastis.

Baca Juga :   Proyek Gas JTB Buka 20 Lowongan Kerja untuk Warga Bojonegoro

Dari total 16–17 MMCSFD itu, lanjut Akbarsyah, sekitar 12–13 MMSCFD dibeli oleh PT Gassuma yang beroperasi efektif pada awal tahun 2012. Pada tahun awal beroperasi, PT Gassuma membeli antara 10-12 MMSCFD dari total produksi gas yang bisa mencapai 30 MMSCFD.

Berlanjut pada awal tahun 2013 bisa meningkat sampai 14–16 MMSCFD, dengan total produksi gas sekitar 25 MMSCFD. Kemudian menurun bahkan di bawah 10 MMSCFD dikarenakan terjadinya penurunan produksi gas ikutan di CPA.

“Selama itu sisa gas yang tidak dapat dimanfaatkan oleh Gasuma maupun keperluan untuk bahan bakar pembangkit listrik internal terpaksa harus dibakar,” imbuhnya.

Kini saat produksi gas JOB P-PEJ turun menjadi sekitar 16–17 MMSCFD, justru kemampuan PT Gassuma menyerap gas meningkat. Rata-rata mampu menyerap 12–13 MMSCFD.

Memasuki tahun 2017, tepatnya tanggal 24 Januari 2017, setelah dilakukannya modifikasi dan inovasi di fasilitas pemrosesan gas CPA, PT Gasuma menambah serapan (feed gas) 0,8 dari gas flare Lapangan Mudi.

Oleh sebab itu, dampak flare dari Lapangan Mudi sejak awal 2017 terus mengecil di bawah ambang batas. Apalagi setelah yang 0,8 MMSCFD juga diserap oleh PT Gasuma.

Baca Juga :   Awali Pemboran Sumur, PEPC Gelar Syukuran di Jambaran Central

Ditambahkan, produksi gas JOB PPEJ tidak bisa dijual semua ke Gasuma karena JOB PPEJ tetap membutuhkan sekitar 5 – 6 MMSCFD. Untuk mendukung proses produksi seperti treatmen minyak di fasilitas CPA dan lokasi-lokasi sumur Mudi, dan juga untuk kebutuhan tenaga listrik internal.

Gas yang diproses internal itu diolah untuk membuang kandungan sulfur, dan H2S dalam alat yang bernama Sulfur Recovery Unit (SRU). Untuk mendapatkan gas bersih (dry gas) sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Dari proses ini masih tersisa gas kotor sekitar  2–3 MMSCFD yang bertekanan sangat rendah sekitar 2 Psi. Gas inilah yang kini sedang diupayakan agar bisa diserap juga oleh PT Gasuma agar mencapai zero gas flare.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari spirit yang ditanamkan oleh Manajemen Pertamina Hulu Energi (PHE) untuk meningkatkan kinerja melalui inovasi berkelanjutan atau Continuous Improvement Program,” tandasnya. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *