SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Gempa bumi di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang mengakibatkan tanah retak bukan disebabkan oleh penambangan tradisional sumur minyak tua di wilayah setempat.
Demikian disampaikan Kepala Sub Bagian Lingkungan Hidup dan Mineral Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Bojonegoro, Dadan Aris kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (18/2/2017).
Menurut dia, aktivitas sumur tua yang berada tidak jauh dari lokasi gempa tidak mempengaruhi kondisi tanah lainnya. Apalagi menyebabkan longsor atau gempa. Namun begitu, pihaknya akan melakukan pengecekan dengan memasang geolistrik di sekitar lokasi gempa untuk memastikan formasi batuan di dalam tanah.
Secara geologi, lanjut dia, formasi yang ada saat ini merupakan batuan lempung dan gamping. Longsor atau gempa yang terjadi di Wonocolo karena sifat tanahnya berpori, dan juga pengaruh kemiringan tanah.
“Selain itu karena hutan yang ada di sekitar juga gundul,”imbuhnya.Â
Kondisi tersebut diperparah dengan turunnya hujan terus menerus sehingga mengakibatkan adanya beban berlebihan yang ada di atas permukaan tanah.Â
“Warga yang tinggal disekitar lokasi pengeboran sumur tua tidak perlu khawatir,”tandasnya.
Seperti diketahui, pada Kamis (16/2/2017) lalu, terjadi dentuman keras disertai retakan tanah yang mengakibatkan longsor di Desa Wonocolo. Kurang lebih lahan seluas 5 hektar retak-retak dan sebagian amblas.
Peristiwa ini menyebabkan sebelas jiwa dari empat kepala keluarga (KK) sementara waktu diungsikan karena berdampak pada tempat tinggal mereka dan diprediski terjadi gempa susulan.(rien)