SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Blora– Pasca adanya protes puluhan pekerja Minyak dan Gas Bumi (Migas) di kantor Distrik Ledok, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Jumat (24/3/2017) kemarin, Kerja Sama Operasi (KSO) Pertamina Geo Cepu Indonesia (GCI) langsung memberikan penjelasan terkait penyebab aksi tersebut. Sesuai berakhirnya kontrak mobil Angkutan Ringan (Angkring) pada tanggal 21 Maret 2017, maka 10 kendaraan tak digunakan lagi.
“Demi efesiensi ekonomi perusahaan ada 10 kendaraan angkring yang tidak diperpanjang kontraknya,†ujar Humas PT GCI, Yenni Hartatik, ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, melalui sambungan teleponnya, Sabtu (25/3/2017).
Perempuan humanis ini dengan detail menjelaskan, tidak diperpanjangnya Angkring karena ada kebijakan efeisensi dari menejemen pusat. Bukan soal usia pekerja memasuki masa pensiun ataupun ganti vendor.
Sebagai mitra Pertamina, GCI yang beroperasi di Kabupaten Tuban, Bojonegoro, Jawa Timur, dan Blora, Jawa Tengah, bakal terus memaksimumkan biaya operasional supaya tetap sehat. Tak hanya itu, meskipun masih ada puluhan pekerja yang belum terima atas kebijakan tersebut, operasional GCI bakal tetap berjalan.
“Langkah tidak memperpanjang ini perlu kami lakukan disaat kontraknya berakhir,†imbuhnya panjang lebar.
Disinggung apakah hanya pekerja yang mengoperasional kendaran angkring yang diberhentikan, Yenni belum dapat menjelaskannnya. Hanya saja, GCI tidak dapat menggunakan jasa pekerja tersebut.Â
Dia menegaskan kembali, penghentian ini murni karena kontrak habis, bukan di tengah jalan saat kontrak masih berjalan.
Dalam waktu dekat, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Blora siap menjadi mediator untuk menyelesaian polemik yang menimpa GCI dan pekerjanya. Diharapkan upaya penyelesaian ini cepat selesai agar kegiatan operasi GCI kembali normal.
Informasi sebelumnya dari salah seorang pekerja GCI, asal Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Jasmani, menyebut ada sekira 58 pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan karena 10 kendaraan angkring tak diperpanjang kontraknya.
Aksi yang dimulai pukul 16:00 WIB cukup ekstrim. Pasca tidak ada titik temu pada pertemuan di Distrik Ledok, pekerja langsung mensweeping karyawan GCI yang masih bekerja. Beruntung mesin oeprasi GCI pada malam harinya, sudah nyala kembali.(aim)