SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Warga Desa Nglanjuk, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, merasa was-was dan khawatir jika sedang melintasi jembatan yang menjadi jalur ke Cepu tersebut. Karena kondisi bangunannya sudah nyaris ambrol yang hingga saat ini belum diperhatikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora.
Sebagai tanda bahaya diberi dua drum dan dua batang bambu dengan diberi karung dan plastik warna putih yang ditancapkan di jalan yang ambles.
Padahal jembatan tersebut merupakan poros desa dan akses utama warga untuk melakukan aktivitas dibeberapa desa sekitar. Jika jembatan ambrol, maka warga desa yang bersebelahan dengan Desa Nglanjuk harus memutar kurang lebih sejauh 17 kilo meter (km) untuk menuju Cepu, dari sebelumnya yang hanya ditempuh dengan jarak 3 km.Â
 “Longsornya kurang lebih sudah satu bulanan,†kata Sumiran (65) warga Nglanjuk pemilik warung tak jauh dari jembatan, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (5/4/2017).
Penyebab kerusakan jalan dan jembatan akibat hujan terus menerus hingga arus kali menjadi deras dan mengikis tanah sekitar jembatan. Hingga membuat tanah di kanan kiri jembatan longsor, dan plengsengan penahan tanah pada sayap jembatan juga hampir roboh. Dikawatirkan jika jembatan abrol bisa memutus akses transportasi warga, dan arus lalu lintas menjadi macet.Â
“Semoga Pemkab Blora segera membangunnya atau minimal sementara dipasang tiang pancang. Supaya tidak lebih parah,†kata dia.
Ada dua desa yang bersebelahan dengan Desa Nglanjuk. Yakni Desa Sumberpitu dan Desa Getas. “Biasanya dari Sumberpitu menuju Cepu hanya berjarak 3 km. Kalau jembatan ini putus, warga di sana harus memutar arah sejauh 17 km,” ucapnya.
Camat Cepu, Joko Sulistiyono, Â menyatakan, jembatan yang hampir ambrol tersebut baru diusulkan masuk pada anggaran tahun 2018 mendatang.
“Penanganannya tahun depan,†katanya.Â
Saat disinggung apakah akan ada penanganan awal, dirinya mengaku tidak tahu. “Soal itu tidak tahu,†ujarnya. (ams)