SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Proyek pembangunan jalur conveyor PT Abadi Cement di Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terancam gagal. Hal ini karena sampai tahun 2017, 12 warga pemilik lahan tidak bersedia melepaskan garapannya untuk pabrik semen asal China.
“Dari 13 warga baru satu petani yang menjual lahannya 30 ribu/meter kepada perusahaan, itupun terpaksa,” ujar perangkat Desa Sugihan, Merakurak, Sucipto, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (5/4/2017).
Pria bertubuh gempal ini mengungkapkan, warganya selama ini telah hidup mandiri dengan mengandalkan hasil pertanian dan peternakan. Ketika ada tawaran dari pembeli lahan, rata-rata warga tidak meresponnya.
Selama ini mayoritas warga Desa Sugihan memiliki hewan ternak sapi. Rata-rata per orang memiliki lima sampai enam ekor. Ternak inilah yang dijadikan tumpuan ekonomi warganya.
Disamping itu, wilayah yang dekat dengan hutan dan sumber yang melimpah juga cocok untuk tanam sayuran dan buah-buahan. Apalagi pada musim tanam cabai, petani untung banyak.
Terkait rencana pembangunan jalur conveyor menuju lokasi bahan baku clay semen di Desa Senori, Merakurak, Sucipto tidak banyak komentar. Hanya saja proyek itu kemungkinan besar gagal, apabila pembebasan lahan belum tuntas.
“Ada cara lain bagi perusahaan, apabila mau membebaskan lahan di wilayah lainnya,” imbuhnya.
Belum berhasilnya jalur conveyor tahun ini, juga berimbas pada tertundanya pelatihan 80 warga Sugihan berusia produktif. Rencana awal PT Abadi Cement bakal bersinergi dengan Badan Latihan Kerja Industri (BLKI) di Tuban.
“Rencana ini pun hanya janji belaka karena pasca sosialiasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) tahun lalu tak ada pertemuan lanjutan di balai desa,” jelasnya.
Gagalnya pelatihan industri terhadap 80 warganya diakui oleh Kades Sugihan, Kecamatan Merakurak, Tuban, Warsito. Zito sapaan akrabnya menilai gagalnya pelatihan karena sulitnya membebaskan lahan di wilayahnya.
“Dulu pernah dijanjikan mau dilatih mengelas,” sambung Sekretaris Asosiasi Kepala Desa (AKD) Tuban ini.
Sampai tahun 2017 ini, Abadi Cement membutuhkan lahan seluas 98,8 hektar dan 17 hektar berada di Desa Sugihan. Rinciannya 4 hektar lahan persawahan, dan 13 hektar lainnya lahan tegalan.
Dalam hal ini, pemdes tidak dapat ikut serta dalam menengahi pembebasan lahan. Alasannya seluruh perizinan sudah diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Pemdes hanya berpesan harus ada titik temu harga antara kedua belah pihak.
Pasca tarik ulur harga dan survei lapangan, pihak perusahaan bersedia membayar harga lahan per meternya kisaran Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. Hanya saja pemilik lahan minta per meternya di beli Rp 200 ribu.
Dikonfirmasi terpisah, Staf dan Penerjemah lapangan PT Andi Cement, Efendy, sampai berita ini ditulis belum memberikan penjelasan detail soal waktu pelatihan, dan perkembangan jalan conveyor. Pesan singkat yang dikirimkan Suarabanyuurip.com, belum mendapat respon.(aim)