SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Kecepatan aparat TNI/Polri Kabupaten Tuban, Jawa Timur, melumpuhkan enam terduga teroris dalam waktu dua jam hari Sabtu (8/4) mendapat pujian dari sejumlah organisasi kepemudaan. Diantaranta Gerakan Pemuda (GP) Anshor, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan Karang Taruna (Kartar) Tuban.Â
Mereka menilai sikap aparat sudah benar, patut diapresiasi dan diacungi jempol dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Repubkik Indonesia (NKRI).
“Semua elemen masyarakat harus waspada dengan organisasi dan ajaran serta faham yang radikal,” ujar Ketua GP Anshor Tuban, Syafiq Syauqi kepada suarabanyuurip.com, Selasa (11/4/2017).
Gus Syafiq meminta, masyarakat segera berkoordinasi dengan aparat, jika ditemukan hal-hal yang mengancam keutuhan NKRI. Apabila terduga teroris tidak puas dengan penerapan hukum dan politik di Indonesia, silahkan melakukan upaya hukum.Â
Bukan malah menebarkan teror semacam ini. Hal ini berarti sudah ada indikasi makar, dan jangan salahkan aparat negara jika menumpasnya.
“Jika tidak sepaham dengan sistem pemerintah silahkan keluar dari NKRI,” serunya.
Dukungan serupa juga disampaikan Ketua KNPI Kabupaten Tuban, Nasirul Umam. Dia menilai apa yang dilakukan oleh aparat di ladang jagung Desa Suwalan, Kecamatan Jenu waktu itu sudah tepat dan konstitusional.
“Teroris jelas musuh negara, karena selain mengusung paham radikalisme, juga mengancam keutuhan NKRI,” terangnya.
Atas kejadian ini, Negara harus bersikap tegas memabasmi para terduga teroris. Sebab bukan hanya meresahkan publik, tapi juga mengancam persatuan dan kesatuan. Pembubaran kelompok yang mengusung paham radikal sangat dibenarkan, karena ada upaya makar kepada pemerintah.
Ketua Karang Taruna Tuban, Luluk Hamim Mukjizat juga ikut membuka suara. Pria yang baru terpilih ketua beberapa waktu lalu itu, sangat menyanyangkan nyinyiran kepada TNI/Polri dari pihak yang tidak berada di lokasi.Â
“Serupa kenapa kok tidak dilumpuhkan saja, atau ada upaya lain, katanya aparat profesional, dan lain-lain, pasti mereka bilang seperti itu,†sambungnya.
Padahal saat berhadapan baku tembak di ladang jagung, hanya ada dua pilihan yaitu menembak atau ditembak. Sikap tegas aparat tentu patut diapresiasi, bukan justru dilemahkan karena semua terduga teroris tewas.
“Jika sudah ada yang mengancam nyawa aparat, artinya sama dengan mengancam keutuhan NKRI,” tegasnya.
Perlu diketahui, motif enam orang terduga teroris asal Jawa Tengah yang menyerang pos lantas di kawasan Jati Peteng, Kecamatan Jenu diduga hanya balas dendam atas tertangkapnya dua tokoh Jamaah Anshorut Daullah (JAD) di Lamongan. Mereka ini ditengari sebagai kelompok yang tergabung dalam JAD antar provinsi di Pulau Jawa. (Aim)