Sadar Bencana Harus Jadi Budaya Masyarakat

Sosialisasi bencana alam

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Badan Penagggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, meminta sadar bencana menjadi budaya di masyarakat setempat. Hal ini menyikapi atas maraknya bencana alam yang melanda sejumlah kawasan di Jawa Timur, terutama tanah longsor dan banjir.

“Jika masyarakat sadar akan bahaya bencana alam, secara tidak langsung akan mengurangi resiko dari bencana yang ada,” ujar kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui usai sosialisasi akan ancaman bahaya bencana alam di Gedung Korpri komplek Pendopo Krido Manunggal Tuban, Senin (17/4/2017).

Saat ini pihaknya telah membentuk Forum Masyarakat Peduli Pengurangan Resiko Bencana (FMPPRB) Tuban. Forum tersebut tidak hanya di bentuk di tingkat kabupaten saja, tapi sudah ada di masing-masing kecamatan dan desa terutama yang berpotensi rawan bencana.

Kedepan sadar bencana ini harus menjadi budaya masyarakat, seperti halnya di Jepang. Negeri Sakura itu dikenal dengan gempa buminya, yang hampir setiap bulan terjadi. Masyarakat disana sudah sadar apa yang harus dilakukan, saat tanda-tanda bencana itu muncul.

Baca Juga :   Simpanan Uang Bojonegoro dari Silpa 2021 di Bank Capai Rp 3,1 Triliun

“Memunculkan kesadaran ini perlu waktu lama, nanti akan lebih baik karena kita tidak akan bias lepas dari bencana,” imbuh mantan Camat Grabakan ini.

Saat disinggung potensi bencana di Tuban, Joko menegaskan, secara keseluruhan ada sepuluh faktor yang bisa menjadi potensi bencana. Mengingat Tuban mempunyai aliran sungai, laut, pegunungan, termasuk saluran air yang tidak normal.

Selain menggugah kesadaran masyarakat akan bencana, pemerintah akan membuat rencana kontijensi. Planing ini bertujuan supaya pemerintah maupun masyarakat tau apa yang akan dilakukan saat terjadi bencana.

“Yang paling bisa mengamankan atau menaggulangi bencana hanya diri sendiri, atau masyarakat langsung,” jelasnya.

Beberapa titik di Tuban yang berpotensi longsor, dipicu oleh gerakan tanah yang dipengaruhi oleh tanggan manusia. Utamanya adanya penebangan pohon, dan penambangan ilegal.

“Untuk daerah rawan longsor mulai Kecamatan Grabakan, Montong, Parengan, Plumpang, Semanding,” tandasnya.(aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *