SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Dalam puncak Hari Ulang Tahun (Harlah) Fatayat Nadhatul Ulama (NU) ke 67, Bupati Tuban, Jawa Timur, Fathul Huda meminta 3.145 kader fatayat yang hadir untuk mempertahankan brand Bumi Wali (sebutan lain Tuban) sampai nafas terakhir. Upaya ini untuk menguatkan persatuan masyarakat yang mayoritas nadliyin, sekaligus menyukseskan program pemerintah.
“Menjaga brand Bumi Wali itu pesan untuk fatayat di usianya ke 67 ini,” ujar Bupati Fathul Huda, kepada suarabanyuurip.com, di Alun-alun Tuban, Senin, 24 April 2017.
Bagaimana mengawal brand Bumi Wali, Fathul Huda meminta apa yang diajarkan oleh para wali adalah islam yang moderat bukan radikal. Sekaligus mampu menjaga NKRI, dan membantu warga miskin di Tuban.
Setelah melakukan survey ke lapangan, ternyata warga NU yang miskin jumlahnya minim sekali. Hal ini sebagai barokah untuk warga NU, dan temuan di lapangan 99 persen orang miskin tidak mengenal bupati.
“Kalau warga NU 1 persen yang miskin, itu hidupnya memang penuh dengan qonaah dan kesabaran,” imbuhnya.
Selain itu, kenapa kita harus mempertahankan brand Bumi Wali di Tuban? karena tanpa menjaga ukhuwah/persatuan, perjalanan hidup di dalam maupun di luar organisasi pasti bakal terjadi gesekan. Disinilah perlu adanya kiat-kiat supaya gesekan itu berkurang.
Fathul Huda merasa bersyukur, bangga dan haru melihat antusias ribuan kader fatayat yang hadir. Hal ini karena semua berangkat dengan biaya sendiri, di tempat yang panas dan silau yakni Alun-alun Tuban.
Diyakini kehadiran ribuan kader fatayat kali ini, pasti ingin diakui sebagai santri mbah KH Hasyim Asy’ari. Mengutip statmentnya “Barang siapa yang berjuang untuk NU maka dianggap santriku, dan barang siapa santriku matinya bakal khusnul khotimah”.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Tuban, Umi Kulsum, sangat berterimakasih atas dukungan semua pihak yang berpartisipasi menyukseskan acara puncak Harlah Fatayat NU ke-67.
Diusia ke-67 ini, diharapkan fatayat NU yang mayoritas perempuan produktif harus selalu menjalankan tiga peran. Yakni sebagai istri, ibu rumah tangga, dan anggota masyarakat.
“Sebagai kader fatayat juga harus menjaga hubungan rumah tangganya jangan sampai terjadi perceraian,” sambungnya.
Kedepan Fatayat NU dan Pemerintah Kabupaten Tuban diharapkan dapat bersinergi lebih baik. Dalam hal pendidikan, sosial, dan mengurangi angka kemiskinan di Bumi Wali.
Ketua panitia Harlah Fatayat NU ke-67, Wahyuni Widayati, menjelaskan, sebelum puncak acara, telah dilakukan beberapa kegiatan sejak tanggal 28 Maret 2017 diantaranya lomba pidato bahasa Jawa, cerdas cermat, PHBN, dan mengolah menu makanan dari bahan singkong.
Sedangkan di puncak acara sejak pagi, mulai khotmil Qur’an Kubro, senam Massal (3.145 Fatayat), Ngaji Kebangsaan oleh pengasuh Ponpes Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Zaim Ahmad Ma’sum dan terakhir pengumuman pemenang hadiah lomba. (aim)