SMA Negeri Dominasi Nilai Unas 2017

Kadin Pendidikan Jatim di tuban Edy

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Kebijakan nilai Ujian Nasional (UN) 2017 tidak menjadi acuan kelulusan, membuat Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mendominasi nilai tertinggi ujian. Secara berturut-turut SMAN 1 dan SMAN 2 Tuban meraih nilai terbaik pada mata ujian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), maupun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

“Padahal tahun sebelumnya SMAN Rengel dan SMAN Jatirogo sempat meraih nilai terbaik pada mata ujian IPS,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur cabang di Tuban, Edy Sukarno, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di kantornya, Jumat (5/5/2017).

Berdasarkan data yang dimilikinya, tahun ini SMAN 1 Tuban dengan jumlah peserta UN 63 siswa jurusan IPS, total nilai dari enam mata ujian sebanyak 308.325. Pada mata ujian IPA dengan jumlah siswa 253, nilai total yang diraih mencapai 301,07.

Sedangkan untuk SMAN 2 Tuban dengan peserta ujian 122 siswa jurusan IPS, total nilainya 280,64. Untuk jurusan IPA dengan jumlah 131 nilai total dari enam mata ujian sebanyak 276,15.

Lebih dari itu, pelajar SMAN 1 juga menyabet rangking 1 hingga 10 besar mata ujian IPA. Untuk peringkat pertama diraih Aulia Widhy Shafira dengan nilai 359,5, kemudian disusul Aqidah khariri dengan nilai Unas 357,5.

Baca Juga :   Diskusi Mahasiswa Bojonegoro: Menjadi Pahlawan Virtual di Era New Normal

Untuk mata ujian IPS, pelajar SMAN 1 dan SMAN 2 juga mendominasi nilai terbaik 10 besar. Peringkat 1 hingga 5 diraih SMAN 1, rangking 6 dan 7 SMAN 2, kemudian rangking 8 hingga 10 diraih kembali SMAN 1 Tuban.

“Persaingan ini membuktikan kedua lembaga ingin meningkatkan kapasitas lulusannya,” imbuh mantan Kepsek SMAN Montong.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, nilai Unas SMA khusus program studi IPS dikuasai oleh SMA pinggiran. Hal ini karena di SMA pinggiran jarak nilai tertinggi UN siswa dengan yang terendah tidak terpaut jauh.

Data dari Dinas Pendidikan Tuban, tahun lalu rata-rata SMA Negeri favorit jarak nilai tertinggi dan terendahnya terlalu anjlok. Ditambah banyak yang membuka kelas jauh, sehingga apabila dirata-rata nilai siswa di induk jaraknya terlalu ketara dengan cabang.

Waktu itu, siswa SMAN 1 Jatirogo bernama Nisa Syafitri memperoleh nilai UN tertinggi studi IPS dengan total nilai 491,5. Rinciannya, Mata Pelajaran (Mapel) Bahasa Indonesia nilainya 86, Bahasa Inggris nilai 66, Matematika nilai 90, Ekonomi nilai 87,5, Sosiologi nilai 74, dan Geografi nilainya 88.

Baca Juga :   Full Day School: PCNU Kontra LPIT Al Uswah

Peringkat kedua disusul Afifah Mujayanah dari SMAN 1 Bangilan, nilai totalnya 488,5, peringkat ketiga ditempati Putri Karyanti dari SMAN 1 Soko, nilai totalnya 479,5.

RR Wina Ayudya siswa SMAN 1 Tuban dengan nilai total 478,5, dan siswa SMAN 2 Tuban, Muhammad Ade Aryana, menempati ranking kelima dengan nilai 476.

Edy menilai tahun ini sekolah pinggiran kurang kompetitif, dengan berjalannya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), maupun Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP). Padahal semakin tinggi nilai patokan kelulusan, mempengaruhi kualitas lulusannya melanjutkan karirnya.

Hal ini tentu perlu dipahami seksama, setiap perusahaan memiliki standarisasi nilai dalam perekrutan tenaga baru. Apabila nilai patokan sekolah pinggiran minim, tentu sekolah unggulan yang mendapat peluang lebih.

“Kami berharap manajemen sekolah memahami hal ini untuk kebaikan bersama,” tandasnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *