SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Sebesar sekira 90 persen produksi minyak Indonesia dihasilkan dari sumur tua yang telah berproduksi sejak dan sebelum tahun 1970 an. Itu disampaikan Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) Ali Mahsyar saat memberi materi pada acara Edukasi Migas dihadapan ratusan pelajar Bojonegoro di Pendopo Malowopati Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (16/5/2017) kemarin.
“Dengan laju penurunan rata-rata 3 persen per tahun dalam kurun waktu 2009-2014,” kata Ali Mahsyar.
Ali mengatakan, temuan hidrokarbon lebih banyak gas, sejak tahun 2002 produksi migas lebih didominasi oleh gas. Indonesia telah menjadi negara importir netto minyak sejak tahun 2004. Hal ini karena ada selisih antara konsumsi masyarakat dengan produksi yang makin melebar.
“Perlu diketahui, hulu migas saat ini masih berperan sangat vital bagi negara,” lanjutnya.
Hal ini karena, minyak dan gas masih mendominasi kebutuhan energi primer sampai dua dekade mendatang. Serta, produksi gas mendatang akan lebih banyak yang dialokasikan untuk kebutuhan pasar domestik.
Ali mengungkapkan, akibat turunnya harga minyak dunia telah mempengaruhi biaya produksi minyak bumi yang tidak sebanding dengan harga jual. Selain itu, membuat perusahaan memangkas biaya operasi.
“Perusahaan harus menunda investasi terhadap wilayah kerja (WK) baru,” imbuhnya.
Tidak itu saja, turunnya harga minyak mentah dunia juga berdampak pada service company akibat ditundanya investasi perusahaan migas. Penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sektor migas menurun dan lesunya perekonomian global.(rien)