SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Selama tiga hari kedepan pesisir Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bakal dilanda gelombang “Songo”. Gelombang laut pertanda awal musim timuran itu, akibat adanya awan konvektif yang memicu hujan dan angin kencang.
“Fenomena ini bakal berlangsung selama tiga hari,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com, Senin (29/5/2017).
Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi ini juga akibat adanya badai Cycclon tropis di Samudra Pasific. Imbasnya suhu muka air laut meningkat, dan mengakibatkan tumbuhnya awan di atas Pantura Jawa.
Seorang nelayan asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Suprapto, membenarkan gelombang “Songo” atau besar telah terjadi sejak hari Minggu (28/5) kemarin.
Sesuai pengalamannya, cuaca atau “jalaran” semacam ini bakal berlangsung 10 hari bahkan dua pekan. Gelombang songo saat musim timuran berbeda dengan musim baratan.
Pada waktu musim timuran, gelombang besar hanya berlangsung saat siang hari. Waktu malam hari air surut, yang menyebabkan perahu banyak yang kandas. Sedangkan pada musim baratan, gelombang besar lebih dominan terjadi pada malam hari.
Saat ini bagi nelayan merupakan musim paceklik. Hal ini karena untuk melaut, harus menyeret perahunya dahulu. Ketika pulang melaut, juga harus berhati-hati karena bertepatan dengan ombak besar.
“Saat ini nelayan sedang dilanda paceklik,” jelas pria dua anak ini.
Senada diungkapkan nelayan lainnya asal Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Sarju. Dia juga membenarkan adanya gelombang songo. Selama gelombang ini berlangsung, nelayan tak perlu “kemit” atau menjaga perahunya di malam hari.
Selama ini rata-rata nelayan Karangsari paling lama melaut tiga hari. Bahkan biasanya hanya sehari. Apabila dihitung perbekalan BBM dan logistik, rata-rata satu perahu membutuhkan Rp 500 ribu- Rp 1,5 juta sekali berangkat. (Aim)