SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Meskipun kaburnya dua Narapidana (Napi) 363 murni kesalahan anggotanya, tapi Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II B Tuban, Jawa Timur, Danang Yudiawan, memaafkan keteledoran oknum pemberi kunci tersebut. Selama 20 tahun pengabdiannya, oknum petugas dapur berinisial HS tak pernah membuat satu kesalahan pun.
“Kami tidak dapat serta merta langsung memberhentikan HS setelah insiden ini,” ujar Kalapas Danang Yudiawan, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (30/5/2017).
Sebagai pimpinan Lapas, Danang justru merasa paling bertanggungjawab. Dirinya siap diperiksa dan menanggung kesalahan anak buahnya dihadapan Kemenkumham.
Saat ini oknum HS masih menjalani pemeriksaaan dari Kemenkumham wilayah Jawa Timur. Untuk memperoleh rincian kronologi kaburnya Napi, Danang mengaku juga bakal diperiksa.
Pria humanis itu, sangat menghargai jasa dan pengabdian HS. Tak disangka dua tahun sebelum pensiun, ada cobaan yang harus dialami anak buahnya.
Selama dua dekade penugasan, HS merupakan sosok pegawai tekun, disiplin, dan rajin. Hanya sekali ini dia melanggar SOP, yang berujung pada rusaknya citra Lapas yang dibangun selama ini.
“Kasus ini menjadi insiden berharga untuk selalu meningkatkan kewaspadaan,” jelasnya.
Dia menilai, sosok HS yang humanis justru dimanfaatkan oleh Zainudin alias Kancil (29), dan Dzulkifli (22).
Hal inilah yang harus dipelajari oleh petugas lain, bahwa naluri pencuri tetap sama. Sekali ada kesempatan langsung diambil.
Untuk meningkatkan kewaspadaan, Lapas telah berkoordinasi dengan Kemenkumham untuk penambahan penjaga. Selama ini Lapas yang berada di Jalan Veteran Tuban sudah melebihi kapasitas.
Semestinya Lapas hanya bisa menampung 175 napi, tapi saat ini lebih dari 400 Napi mendekam di balik jeruji besi. Kebetulan hari Minggu (28/5) lalu hanya ada empat petugas. Tidak mungkin satu petugas mampu mengawasi 100 Napi di waktu yang sama.
Insiden kaburnya Napi berawal saat oknum HS mengambil kunci pagi hari dari ruang penjaga malam. Dua SOP yang dilanggar pertama meminta bantuan Warga Binaan Lapas (WBP) buang sampah dapur. Tanpa diawasi, WBP leluasa buka tutup pintu ruangan terlarang.
Berikutnya, oknum HS kembali menyerahkan kunci kepada WBP untuk mengambil pakan lele di ruang bengkel. Padahal saat hari libur, telah disepakati ruang yang dimaksud tidak boleh dibuka.
Titik inilah yang disebut Danang sangat rawan saat hari libur. Selain tidak ada penjaga yang mengawasi, juga menghubungkan langsung menuju pagar terluar Lapas sebelah Selatan.
“Untuk melewati kawat duri berlapis, dua Napi ini diduga melapisi tangannya menggunakan sandal maupun botol plastik air mineral,” ungkapnya.
Saat melewati sel wanita, sebenarnya kedua Napi membuat suara yang menarik perhatian Napi wanita. Hanya saja dianggap suara kucing, jadi tidak dilaporkan.
“Sialnya saat keduanya melompati tembok terluar, petugas kebersihan sedang menyapu bagian dalam halaman Lapas,” tandasnya.
Sampai detik ini, Zainudin alias Kancil (29), yang beralamat Desa Karangasem, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan  Dzulkifli (22) asal Desa Payaman Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan belum tertangkap.
Meskipun tim Satuan Tugas (Satgas) telah menerjunkan 42 personil, tapi belum membuahkan hasil. Semoga dengan disebarnya foto dua Napi, masyarakat ikut membantu dalam pencarian.
“Apabila keduanya terbukti meninggalkan Kabupaten Tuban, kewenangan penangkapan akan diserahkan ke Polri dengan status Daftar Pencarian Orang (DPO),” pungkasnya. (Aim)