Komisi VII DPR RI Tolak Penundaan Kilang Tuban

Satya W Yudha

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Satya Widya Yudha, menolak keputusan PT Pertamina (Persero) menunda sejumlah kilang termasuk proyek New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban, Jawa Timur. Penundaan tersebut dikhawatirkan membuat defisit transaksi impor BBM Nasional semakin lebar.

“Kita menginginkan agar proyek Kilang Tuban tidak tertunda,” ujar Satya Widya Yudha, melalui pesan singkat yang diterima suarabanyuurip.com, Kamis (15/6/2017).

Pria kelahiran Kediri ini memberikan solusi ke Pertamina agar terhindar dari beban defisit. Pertama mempercepat pembangunan kilang baru, dan kedua mempercepat selesai project upgrading kilang-kilang yang sudah ada.

Penolakan penundaan kilang juga datang dari Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I.G.N Wiratmaja Puja. Dalam siaran resminya, Wiratmaja menilai keputusan ini akan berdampak pada peningkatan impor minyak.

Berdasarkan data Pertamina, saat ini kapasitas kilang hanya 800 ribu barel per hari (bph). Sementara kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) mencapai 1,6 juta bph.

“Harus ada solusi agar proyek kilang tidak tertunda,” imbuh Wiratmaja.

Baca Juga :   PEPC Tugaskan 8 Personel Flagman Lancarkan Lalin JTB

Bagi yang sudah bermitra, Pertamina bisa mengurangi porsi kepemilikan. Sebagai gambaran, saat ini Pertamina menggarap dua proyek kilang baru yakni di Tuban dan Bontang.

Ada juga proyek peningkatan kapasitas dan kemampuan produksi di empat lokasi yang berada di Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai. Proyek ini bisa meningkatkan kapasitas di atas 2 juta bph pada 2025.

Adapun proyek yang sudah bermitra seperti di Kilang Tuban. Pada proyek ini Pertamina memiliki hak kepemilikan mayoritas sebesar 55 persen, sisanya dimiliki perusahaan asal Rusia, Rosneft. Kemudian Kilang Cilacap di Jawa Tengah dengan Saudi Aramco dengan kepemilikan 55 persen.

Selain menurunkan hak kepemilikan, Wiratmaja juga menyarankan Pertamina menggandeng mitra bagi proyek yang sedang digarap swadaya, seperti Kilang Balikpapan. Dengan menggandeng mitra, perusahaan pelat merah itu bisa berbagi risiko, sehingga keuangan juga tidak terlalu berat.

Untuk menggarap enam proyek kilang tersebut, Pertamina membutuhkan dana sekitar US$ 36,27 miliar atau lebih dari Rp 471 triliun.

Perinciannya, Kilang Balongan sebesar US$ 1,27 miliar, Kilang Balikpapan US$ 5,3 miliar, Kilang Cilacap US$ 4,5 miliar, dan Kilang Dumai US$ 4.2 miliar. Untuk kilang baru di Tuban harus menyiapkan dana US$ 13 miliar dan Kilang Bontang US$8 miliar.

Baca Juga :   Menteri ESDM : Strategi Produksi 1 Juta Barel Sedang Dijalankan

Sampai berita ini ditulis, suarabanyuurip.com masih menunggu konfirmasi dari VP Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *