Dua Pekan, Tiga Insiden Kebakaran di Tuban

Kebakaran di Tuban

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur, meminta masyarakat mewaspadai potensi kebakaran di awal kemarau basah 2017. Hal ini karena dalam waktu dua pekan terakhir, telah terjadi tiga kali insiden kebakaran hutan dan pemukiman.

“Kapanpun bisa terjadi kebakaran maka dari itu harus selalu siaga,” ujar Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com, saat dikonfiemasi melalui sambungan teleponnya, Sabtu (15/7/2017).

Joko kemudian merinci tiga insiden kebakaran yang terjadi sejak tanggal 1-15 Juli 2017. Insiden pertama terjadi tanggal 4 Juli 2017, di kawasan hutan Pakah petak 81 B RPH Pakah, Desa Gesing, Kecamatan Semanding. Tak ada korban jiwa maupun material, karena api hanya menjalar seluas 1/2 hektar kawasan hutan.

Kejadian kedua, si jago merah mengamuk dan menghanguskan gudang padi milik Sanadi di Dusun Kanor, Desa Kanorejo, Rengel. Api berawal dari pembakaran sekam, dan merembet yang mengakibatkan kerugian sebesar Rp 7 juta.

Kebakaran ketiga dan paling besar kerugiannya terjadi hari Sabtu pagi (15/7) sekitar pukul 04:45 WIB. Sebuah kandang berisi 28 ribu ekor ayam potong milik Tasmani di Dusun Kajangan, Desa Magersari, Kecamatan Plumpang ludes dilahap api.

Baca Juga :   Pelatihan Kerja Gratis Bagi Korban PHK, Ini Syaratnya

“Kerugiannya ditaksir Rp300 juta,” imbuh Joko.

Api yang diduga berasal dari korsleting listrik ini, menyulitkan petugas. Sampai dengan pukul 10:00 WIB, petugas pemadam sudah isi ulang 15 kali mobil tangki untuk menjinakan sisa api.

Hasil evaluasi BPBD, ada beberapa faktor penyebab kebakaran di Bumi Wali (sebutan lain Tuban). Untuk kebakaran pemukiman berdasarkan beberapa kejadian terakhir, benda pemicu kebakaran masih menjadi satu dengam obyek terbakar. Serupa saat bediang (membakar makanan ternak dari padi), korsleting arus listrik dan kompor.

Sementara untuk kebakaran hutan karena ulah pengendara motor membuang putung rokok sembarangan, atau sengaja untuk membuka lahan baru.

Pada saat musim kemarau juga perlu diwaspadai, karena obyek sekitar kita lebih kering dan mudah terbakar. Secara otomatis perlu dijauhkan, bahkan dipisahkan dari objek potensi pemicu kebakaran.

“Hutan Jati Peteng dan Pakah yang paling rawan terbakar dan letaknya ada di jalur Pantura,” jelasnya.

Kepala RPH Pakah, Sumarji juga membenarkan untuk kebakaran kawasan hutan paling sering terjadi sabotase. Bisa masyarakat sekitar yang membakar, maupun pengguna jalan yang membuang putung rokok sembarangan.

Baca Juga :   Selamatkan Lingkungan Melalui Aksi Pungut Sampah

“Kebakaran Hutan Pakah awal bulan Juli kemarin diduga ada sabotase,” terangnya.

Untuk mempercepat penanganan kebakaran tahun ini, pemkab berencana menambah satu unit mobil pemadan sehingga totalnya 18 unit mobil. Selain ini tahun ini juga mengejar pembangunan pos pemadam di Kecamatan Jatirogo.

“Jarak penanganan bencana di Tuban waktunya dua jam jadi pos pemadam di Jarirogo cukup efektif,” pungkas Joko. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *