SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Memasuki semester dua 2017, Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Tuban, Jawa Timur, terus menggenjot produksi garam di Kecamatan Palang dan Tambakboyo supaya melampaui target 31 ribu ton/tahun. Dampak kemarau basah tahun ini, membuat produksi garam di Bumi Wali (sebutan lain Tuban) baru tembus 100 ton.
“100 ton itu terhitung pada pekan ketiga bulan Juli 2017,” ujar Kabid Perikanan Budidaya DPP Tuban, Umi Khulsum, kepada suarabanyuurip.com, saat dijumpai di kantornya, Rabu (26/7/2017).
Perempuan berkacamata itu awalnya, memprakirakan bulan Juli menjadi puncak panen petambak garam. Ternyata alam berkehendak lain. Kemarau basah yang berlangsung saat ini, sangat menghambat proses pengkristalan air laut menjadi garam.
Kondisi inilah yang mengakibatkan minimnya pasokan garam di pasaran. Pada umumnya garam per Kilogram (Kg) dihargai Rp250, namun saat ini harganya mencapai Rp3.000/Kg garam.
“Inilah masa sulit yang dirasakan petambak garam,” jelas Umi.
Sekali pun harganya tinggi, tapi petambak tidak dapat memproduksi garam secara massal. Untuk menyempurnakan proses pengkristalan garam industri, minimal butuh waktu 10 hari. Sedangkan untuk garam konsumsi dapat dipanen sebelum 10 hari.
Jeda waktu inilah yang menjadi teka-teki petambak garam. Ketika matahari terik, para petambak bergegas mengisi petak garam. Hanya saja ketika malam hujan, proses pembuatan garam harus dimulai dari nol.
Dijelaskan pula saat ini pasokan garam di Tuban minim, karena stok garam tahun lalu nihil. Sebagaimana diketahui sepanjang tahun 2016 merupakan musim penghujan.
“Untuk mencukupi kebutuhan lokal saja kurang jadi harga garam di pasaran tembus Rp5.000/ Kg,” terangnya.
Untuk memenuhi target garam tahunan, Umi bersama timnya tidak tinggal diam. Pada tahun 2016 lalu, setidaknya ada 397 petambak yang menerima bantuan plastik geoisolator. Plastik tersebut fungsinya mempercepat pengkristalan garam, dibandingkan dengan media tanah langsung.
“Hasil garamnya juga lebih putih dan bernilai jual tinggi,” imbuhnya.
Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk terus memantau kondisi garam. Mahalnya garam biarlah dinikmati petambak sementara.
“Yang paling utama jangan sampai impor,” pintanya.
Sebulan terakhir harga garam konsumsi di beberapa pasar tradisional terus merangkak naik. Semula harganya Rp240/kg, kini menjadi Rp5.000/kg garam. Di beberapa gudang penampungan garam di dua kecamatan juga pasokannya minim.(Aim)