SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, meraih penghargaan Adipura. Penghargaan paling bergengsi di bidang lingkungan itu diterima Bojonegoro bersama ratusan Kabupaten/kota lainnya dan sekolah penerima adiwiyata di malam Anugerah Lingkungan 2017 peringatan Hari Lingkungan Hidup di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (2/7/2017) tadi malam.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar  kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Nurul Azizah. Bojonegoro dinilai berhasil mengelola sampah menjadi berkah karena dapat menjadi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Menteri LHK Siti Nurbaya menjelaskan penganugerahan Adipura 2017 Â kali ini ada furmula baru dalam strategi rebranding adipura. Dimana dalam penerapan program Adipura perlu dilakukan terobosan-terobosan baru yang mengarah pada peningkatan dampak positif.
“Sehingga program ini diharapkan dapat mampu mendorong penyelesaian terhadap isu lingkungan hidup,†tegas menteri perempuan itu.
Isu lingkungan hidup yang dimaksud Siti Nurbaya adalah pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau, pemanfaatan ekonomi dari pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau (RTH), pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan pengendalian dampak perubahan iklim.
Kemudian pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat pertambangan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta penerapan tata kelola pemerintahan yang baik, yang sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan nomor P.53/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2016 tentang pedoman pelaksanaan program adipura.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bojonegoro, Nurul Azizah menjelaskan ada beberapa hal yang ditekanan dalam pengelolaan lingkungan hidup di Bojonegoro yakni hidup bersih, rindang, asri, indah dan berkelanjutan.
Keberadaan Bank Sampah, mislanya. Kata dia, dari sampah yang dipilah dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai jual dan tambah di masyarakat.
“Sampah yang kita olah bisa menjadi gas dan bahan bakar yang dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga,†ujar Nurul.
Selain mengolah sampah, lanjut Nurul, Bojonegoro juga telah membuat biophori, program seribu embung, tanaman bougenvile di sepanjang jalan, dan sanitasi landfields ditempat pembuangan sampah akhir (TPA).
“Semua itu dilakukan secara bersinergi dan kolaborasi antara pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat yang peduli akan lingkungan sehingga dapat memperluas jangkauan pada lembaga sekolah,†jelas Nurul.
Hasilnya, kata Nurul, jumlah sekolah adiwiayata di Bojonegoro meningkat signifikan. Dari awal tahun 2014 hanya ada 4 sekolah adiwiyata, tahun 2017 ini meningkat menjadi 65 lembaga.
“Diharapkan penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi semua elemen masyarakat untuk terus menjaga alam dan lingkungan sehingga dapat mengubah perilaku gaya hidup untuk menjadi Wong Jonegoro yang sehat, cerdas,produktif, dan bahagia,†pungkasnya.(rien)