SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Kerja Sama Operasional (KSO) Pertamina- PT Geo Cepu Indonesia (GCI) sampai detik ini masih bungkam soal penyebab padamnya jaringan penerangan di Distrik Kawengan yang masuk di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Praktis kondisi tersebut membuat produksi sumur Migas di wilayah Kawengan berhenti/lumpuh.
“Pengaruhnya besar karena hampir semua sumur minyak berhenti produksi,” ujar seorang pekerja di SP 5 Distrik Kawengan, Jasmani, melalui pesan yang dikirimkan suarabanyuurip.com, Kamis (3/8/2017) kemarin.
Powerplan induk genset tiap SP mati. Mengatasinya para pekerja terpaksa menggunakan baterai sebagai penerangan darurat.
Bantuan Solar untuk menyalakan genset dari Pertamina pun habis. Sementara setiap malam wilayah Kawengan gelap gulita. Para pekerja mengeluh dan berharap manajemen GCI segera bangkit.
“GCI kacau apa-apa ndak punya,” imbuh pria asli Desa Banyuurip, Kecamatan Senori ini.
Kabar yang beredar di telinga pekerja, PT GCI sekarang sedang mencari investor atau pihak ketiga sebagai penyandang dana. Mengingat kontraknya sampai 2033, tentu KSO GCI tak ingin rugi.
Menanggapi padamnya penerangan di lumbung energi, Asmen Support and Admin PT GCI, Rini Sutiasih, akan berkoordinasi terlebih dahulu. Jika sudah ada kabar, akan diinfokan ke wartawan media ini.
Hitung-hitungan berapa kerugian atas insiden ini, GCI juga belum merilisnya. Padahal target dari Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, setiap KSO harus mampu menyetorkan minyak mentah 1.500 BOPD.
Matinya penerangan di Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) PT GCI, bukan hanya kali ini. Informasi dari pekerja, padamnya sejak akhir bulan Juli 2017 lalu. (Aim)