SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Petani garam di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tak merasakan ‘manisnya’ tingginya harga garam. Sebab saat harga garam mencapai Rp4.400 perkilogram beberapa waktu lalu mereka tidak bisa menikmatinya karena baru masa ‘tanam’.
Saat harga garam mulai turun justru mereka baru mulai panen. Seperti dirasakan para petani garam di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong misalnya.
“Pas harga garam sedang tinggi-tingginya bulan Juli lalu kami tidak punya stok garam karena baru masa tanam,” kata petani garam Hedi, kepada suarabanyuurip.com, Senin (14/8/2017).
Saat ini petani garam baru memulai memanen garam namun prosentasenya baru 20 persen. Sayangnya saat memasuki panen garam harga garam justru menurun yaitu Rp 1500 perkilogram. “Petani garam menjual ke pengepul Rp 1500 perkilogram. Seminggu lalu Rp 2000 perkilogram,” terang Hedi.
Hedi memperkirakan, saat panen raya garam nanti yaitu di akhir bulan Agustus hingga September harga garam akan semakin turun karena melimpahnya pasokan garam.
“Meski harga garam melambung petani garam tidak pernah merasakan manisnya kenaikan harga garam,” keluh petani garam lainnya, Sutam.
Kepala Desa Labuhan, Afnan Effendi, menambahkan, wilayahnya merupakan salah satu sentra penghasil garam di Kabupaten Lamongan.
“Luas lahan tambak garam sekira 25 hektar. Petani garam tergabung dalam 5 kelompok petani garam,” tandas Afnan. (tok)