SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Dalam waktu 17 hari sejak tanggal 12 Agustus 2017, kekeringan sudah melanda di 16 desa wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Salah satunya di wilayah sekitar Lapangan Migas Tapen yang di kelola Pertamina Eksplorasi Produksi (EP) Asset 4 Field Cepu di Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban.
Diantara desa di Kecamatan Senori yang terdampak kekeringan, dan telah memperoleh kiriman air bersih berkala dari pemerintah daerah mulai Desa Sidoharjo, Wangluwetan, Wanglukulon, Jatisari, Medalem, Leran, Kaligede, Rayung, dan Desa Sendang.
“Sebanyak 16 desa terdampak kekeringan itu berada di enam kecamatan,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono, ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, di kantornya, Selasa (29/8/2017).
Bertambahnya jumlah desa terdampak kekeringan ini sangat cepat. Catatan Joko, pada pertengahan bulan Agustus hanya ada satu desa kekurangan air di satu kecamatan.
Saat ini telah menyebar di 16 kecamatan mulai Semanding, Grabagan, Montong, Parengan, Bangilan, dan Senori. Bencana ini sesuai informasi dari BMKG merupakan dampak dari gejala El Nino moderat.
El Nino di Kabupaten Tuban tahun ini berbeda dengan tahun 2015 lalu. Moderat artinya masih ada daerah yang terjadi hujan, sekalipun intensitasnya rendah.
Hal yang sudah diantisipasi sesuai info BMKG, puncak musim kemarau akhir bulan Agustus. Sedangkan di Tuban untuk akhir kemarau terjadi pada akhir bulan September 2017.
Selama ini BPBD juga telah berkordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait antisipasi kekeringan. Hasilnya telah dijadwalkan droping air di 16 desa sampai akhir September mendatang.
“Desa terdampak kekeringan ada dua kategori kering langka dan kritis,” imbuh Joko.
Maksud dari kering langka ini, nantinya menjadi acuan tim BPBD untuk menghadapi kering kritis. Perubahan inilah yang akan dikalkulasi baik armada, personil, debit air, maupun anggaran.
Dalam hitungan anggaran semuanya dijadikan kering kritis, tapi dalam segi droping air ternyata masih ada titik yang debit airnya cukup. Dari 16 desa terdampak, 10 diantaranya masih kering langka.
“Sejumlah 10 desa inilah yang pada bulan September akan mengalami kering kritis,” tambah pria humanis tersebut.
Joko membandingkan, dampak El Nino kuat tahun 2015 lebih ekstrim. Waktu itu ada 42 desa di 16 kecamatan terdampak kekeringan.
“Semoga dampak El Nino tahun ini tidak meluas dan segera turun hujan,” harapnya.
Camat Senori, Sugeng Purnomo, membenarkan, desa sekitar Lapangan Migas Tapen sangat membutuhkan air. Tak pelak, kondisi tersebut langsung dilaporkan ke pemerintah daerah.
“Sudah dua kali dropping di Kecamatan Senori,” sambungnya.
Data BPBD Tuban, untuk desa terdampak kekeringan di Kecamatan Semanding mulai Desa Gesing, Prunggahan Kulon, Sembungrejo, Genaharjo, Jadi. Di Kecamatan Grabagan hanya Desa Ngandong. Desa Maindu, Beringin, Nguluhan, Talangkembar di Kecamatan Montong. Desa Pacing, Kecamatan Parengan. Terakhir Desa Kedungjambangan, Klakeh di Kecamatan Bangilan. (Aim)