Warga Rahayu Tunggu Pembuktian Dampak Flare Mudi

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Setelah serah terima tali asih berupa inkind (beras), Pemerintah Desa (Pemdes) Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menunggu kelanjutan pembuktian dampak gas flare Central Processing Area (CPA) Mudi. Hal ini sesuai kesepakatan yang tertuang dalam Berita Acara (BA) penyelesaian kompensasi pada awal 2017 lalu.

“Sesuai kesepakatan pembuktian ada tidaknya dampak gas flare dilakukan pasca pencairan tali asih,” ujar Kepala Desa Rahayu, Sukisno, kepada suarabanyuurip.com, di balai desa setempat, Senin (11/9/2017).

Bukan tanpa sebab Sukisno mengingatkan Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ) akan pembuktian dampak flare. Karena pantauan terbatas yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Tuban waktu lalu ditunda sepihak, dan harus dilanjutkan. 

Warga Rahayu sampai sekarang masih penasaran soal dampak flare CPA. Bila melihat hasil ukur bising sementara, jelas pada radius 50 meter masih terdampak.

Pria bertubuh jangkung itu juga minta operator Migas yang kontraknya habis pada 28 Februari 2018 mendatang, itu merampungkan semua tanggungan di wilayah operasinya.

Baca Juga :   SKK Migas Ingin Kembalikan Kepercayaan Publik

“Jangan sampai sisa tanggungan tahun ini, dilimpahkan ke operator baru dalam hal ini Pertamina,” ucap Sukisno.

Selain itu JOB P-PEJ juga harus memikirkan lingkungan sekitar CPA Mudi per September 2017- Februari 2018. Apabila api flare volumenya masih besar seperti sekarang, tentu harus ada tanggungjawab. Mengingat saban hari warga khususnya di Dusun Sarirejo, Gandu, dan Delik merasakan bising dan panas.

“Kalau apinya dikecilkan malah bagus,” imbuh Kisno.

Menjelang berakhirnya kontrak Blok Tuban, Field Manager (FM) JOB P- PEJ, Nusdi Septikaputra, menjelaskan timnya pada akhir bulan September ini bakal memasang alat kompres. Tujuanya memperkecil api flare CPA seminimal mungkin.

“Ini komitmen operator terhadap lingkungan Mudi,” sambungnya.

Diharapkan kegiatan ini tidak mengalami kegagalan teknologi. Prinsipnya semakin cepat api flare kecil, semakin berkurang pula dampak yang ditimbulkan. 

Catatan Nusdi, produksi minyak rata-rata di CPA Mudi sebesar 10 ribu barel per hari (BPH). Pasokan minyak masih didominasi dari Lapangan Sukowati, Bojonegoro. 

Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jabanusa, Fatah Yasin, mengingatkan JOB P-PEJ untuk memperhatikan batas izin lingkungan.

Baca Juga :   Runergy, Begini Cara Mengenal Migas di Bojonegoro dengan Berlari

“Jangan sampai kegiatan produksi migas berdampak negatif bagi warga Rahayu,” pesan pria ramah ini.(aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *